<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1309261351433601549</id><updated>2011-09-11T06:30:37.237+07:00</updated><category term='Hisab Rukyat'/><category term='ucapan'/><category term='Momentum'/><title type='text'>sang-BINTANG</title><subtitle type='html'>Kumpulan "hikmah" yang berserak...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.mashariali.co.cc/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1309261351433601549/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.mashariali.co.cc/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Harry Al-Brebessy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17564538343679164647</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nZ3NBJL1tRw/TA-NNEtnxfI/AAAAAAAAAU8/5xVmm0QqYRU/S220/100_0478.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1309261351433601549.post-7934515613034056668</id><published>2011-09-11T06:30:00.000+07:00</published><updated>2011-09-11T06:30:37.250+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hisab Rukyat'/><title type='text'>Berbukalah Pada Tanggal 30 Agustus 2011 Wahai Ummat!!! Hilal Sudah Terlihat! Terimalah Kemurahan Rabb-mu!</title><content type='html'>&lt;h2&gt;&lt;a href="http://abisyakir.wordpress.com/2011/08/30/berbukalah-pada-tanggal-30-agustus-2011-wahai-ummat-hilal-sudah-terlihat-terimalah-kemurahan-rabb-mu/" rel="bookmark" title="Link permanen: Berbukalah Pada Tanggal 30 Agustus 2011 Wahai Ummat!!! Hilal Sudah Terlihat! Terimalah Kemurahan Rabb-mu!"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.&lt;br /&gt;Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi malam, Sidang Itsbat Departemen Agama RI sudah menyatakan, bahwa  hari raya Idul Fithri jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011, atau  bertepatan dengan hari Rabu. Penetapan Depag RI ini didukung nasehat MUI  (KH. Ma’ruf Amin), pernyataan mayoritas ormas Islam, hasil perhitungan  falaqiyyah para ahli hisab, hasil pantauan astronomi oleh beberapa pakar  astronomi. Dengan demikian, tampaklah bahwa ketetapan Depag RI itu  sangat kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="wp-caption alignleft" id="attachment_3817" style="width: 250px;"&gt;&lt;a href="http://abisyakir.files.wordpress.com/2011/08/gambar-hilal.jpg"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-3817 " height="222" src="http://abisyakir.files.wordpress.com/2011/08/gambar-hilal.jpg?w=240&amp;amp;h=222" title="Gambar Hilal" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="wp-caption-text"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="wp-caption-text"&gt;Ibadah Islami Berdasarkan Rukyatul Hilal (Melihat Bulan Sabit).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;Tetapi kami justru menghimbau kaum Muslimin agar: “&lt;strong&gt;Segera  membatalkan puasanya pada tanggal 30 September 2011, atau pada hari  Selasa; kalau mau ikut Shalat Id pada hari Selasa, silakan; kalau mau  ikut Shalat Id pada hari Rabu (seperti yang kami lakukan), silakan juga;  pendek kata, batalkan puasa pada hari Selasa, tanggal 30 Agustus 2011.&lt;/strong&gt;“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa kami berani menentang penetapan Depag RI soal  kepastian Idul Fithri pada tanggal 31 Agustus 2011 itu, padahal kami ini  bukan siapa-siapa dibandingkan mereka? Ilmu falaq ya segitu-gitunya,  pengalaman melihat hilal tak pernah, pengalaman astronomi minim, ilmu  fiqih juga minim. Kok berani-beraninya menentang ketetapan Depag RI yang  sudah mapan itu? &lt;em&gt;Onde mak oey…&lt;/em&gt; (meminjam istilah masyarakat Padang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut alasan-alasan yang bisa kami kemukakan:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[1]&lt;/strong&gt;. Perlu sama-sama dipahami, bahwa urusan ibadah memiliki aturan berbeda dengan muamalah. Ibadah memiliki &lt;em&gt;khashaish&lt;/em&gt;  (kekhususan-kekhususan) yang merupakan hak prerogatif Allah dan  Rasul-Nya. Dalam soal ibadah shaum, Haji, dan hari raya, Nabi Saw  memerintahkan metode RUKYATUL HILAL (melihat awal bulan). Tidak masalah  kita menjalankan ibadah berbeda dengan kalender, asalkan syarat-syarat  ketentuan ibadah itu terpenuhi. Dalam urusan ibadah memakai Rukyatul  Hilal, sedangkan dalam urusan muamalah memakai kalender (hasil hisab).  Tidak mengapa semua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[2]&lt;/strong&gt;. Sudah ada pernyataan yang datang &lt;strong&gt;SEBELUM&lt;/strong&gt;  pengumuman Sidang Itsbat Depag RI, bahwa ada di antara kaum Muslimin di  Jepara dan Cakung Jakarta sudah melihat hilal. Maka pengumuman ini  harus diterima, selama yang bersangkutan mau bersumpah. Demikian kaidah  aslinya. Apapun teori ilmu falaq, nasehat MUI, perhitungan ahli hisab  ormas Islam, pantauan astronomi, dll. semua itu menjadi tidak berlaku,  jika sudah ada kaum Muslimin yang mengaku telah melihat hilal. Inilah  dasar aplikasi Syariat Islam aslinya, sebelum kaum ahli hisab/pakar  astronomi &lt;strong&gt;menguasai wilayah ibadah ini&lt;/strong&gt;. Hal itu sesuai sabda Nabi Saw.: “&lt;strong&gt;Shumuu li ru’yatihi wa ufthiruu li ru’yatihi&lt;/strong&gt;”  (shaumlah kalian dengan melihat hilal, dan berbukalah -saat awal  Syawal- dengan melhatnya juga). [HR. Bukhari Muslim]. Untuk memastikan  baca artikel voa-islam.com ini: &lt;a href="http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/08/30/15969/hilal-sudah-terlihat-senin-sore-tapi-pemerintah-tetapkan-1-syawal-hari-rabu/" target="_blank" title="Berita voa-islam.com, Hilal sudah terlihat!!!"&gt;&lt;strong&gt;Hilal Sudah Telrihat Senin Sore, Tapi Pemerintah Tetapkan 1 Syawal Hari Rabu&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[4]&lt;/strong&gt;. Perlu diketahui bahwa metode penetapan melalui  Sidang Itsbat Depag RI itu ternyata merupakan bentuk dari memaksakan  metode hisab/falaqiyyah secara EKSTREM. Ini adalah bentuk kesesatan baru  yang tidak sesuai Sunnah Nabi Saw. Mengapa dikatakan demikian? Sebab  mereka jelas-jelas MENOLAK kesaksian beberapa orang Muslim di Cakung dan  Jepara yang telah mengaku melihat hilal. Kata mereka, “Tidak mungkin  hilal sudah terlihat! Menurut perhitungan kami dan pengamatan astronomi,  seharusnya hilal belum terlihat.” Nah itu dia, mereka menolak kesaksian  melihat hilal karena alasan perhitungan ilmu falaq dan pantauan  astronomi. Padahal Nabi Saw tidak mempersyaratkan hal itu. Cukuplah  kesaksian seorang Muslim yang mau disumpah, itu sudah cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[5]&lt;/strong&gt;. Kita harus memahami, bahwa Allah Ta’ala  berkuasa atas segala kejadian di alam ini. Bisa jadi, sesuatu yang tidak  mungkin secara ilmu falaq/astronomi, bisa menjadi mungkin menurut Allah  Ta’ala. Apakah kita meragukan Kekuasaan Allah? Percayakah Anda, bahwa  bisa saja Allah menampakkan hilal kepada sebagian hamba-Nya dan menutup  hilal bagi sebagian yang lain? Hal itu sangat bisa terjadi dan sering  terjadi. Tampaknya hilal adalah karunia Allah Ta’ala kepada  hamba-hamba-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan prediksi sains tidak selalu sesuai kenyataan.  Banyak bukti-bukti di lapangan bahwa prediksi sains berbeda dengan  kenyataan, misalnya prediksi cuaca, prediksi badai, prediksi gunung  meletus, prediksi tsunami, prediksi janin dalam kandungan, prediksi usia  harapan hidup pasien, prediksi penyakit dalam tubuh, prediksi hasil  panen, prediksi pertumbuhan tanaman, prediksi kecepatan kendaraan, dll.  Apakah di semua keadaan itu sains bisa memberikan hasil prediksi  sempurna? Contoh kekeliruan informasi sains. BMKG pernah memprediksi  ancaman tsunami di Sumatera telah berlalu, tetapi kemudian tsunami  melanda Mentawai dan sekitarnya, ratusan orang meninggal disana.  Sebaiknya Ummat Islam jangan memutlakkan hasil analisis sains, meskipun  jangan pula menolaknya mentah-mentah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[6]&lt;/strong&gt;. Para ahli falaqiyyah/ahli hisab/pakar astronomi  sering marah kalau mendengar ada seorang Muslim mengaku sudah melihat  hilal. Mereka beralasan, “Tidak mungkin terlihat. Itu bohong semata!  Berdasarkan perhitungan kami, hilal belum terlihat!” Orang-orang ini  bersikap IRONIS, seolah hak dalam penentuan urusan din ini ada di tangan  mereka sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah, mereka berada dalam &lt;strong&gt;maqam ma’shum&lt;/strong&gt;,  yang tak tersentuh kesalahan. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata  illa billah. Disini kita bisa buktikan, bahwa orang-orang itu bersikap  TIDAK KONSISTEN dengan sikapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;, kita bertanya  ke mereka, “Mengapa Anda menolak kesaksian Muslim yang sudah melihat  hilal?” Mereka jawab, “Berdasarkan perhitungan kami, dan diperkuat hasil  pantauan astronomi, hilal tak mungkin terlihat. Bohong besar kalau ada  yang mengaku sudah melihat.” &lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;, kita bertanya lagi,  “Kalau hilal tak mungkin terlihat, lalu bagaimana solusinya?” Mereka  jawab, “Ya, bulan Ramadhan kita istikmal-kan menjadi 30 hari. Mudah  bukan!” Nah, disana itu bukti sikap TIDAK KONSISTEN mereka. Kalau mereka  konsisten dengan metode Rukyatul Hilal dengan syarat-syarat seperti  yang mereka tetapkan, belum tentu bisa melihat hilal pada tanggal 30  Ramadhan, tanggal 31, dan sebagainya. Bagaimana kalau langit tertutup  mendung terus, darimana mereka akan bisa melihat hilal? Perlu diketahui,  Observatorium Boscha itu berkali-kali gagal mengamati gerhana, komet,  atau meteor gara-gara langit terhalang oleh mendung/awan. Metode  istikmal (menggenapkan bulan menjadi 30 hari) adalah metode Sunnah,  bukan berdasarkan teori-teori falaqiyyah/astronomi.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kalau mereka  mau mengambil Sunnah dalam soal ISTIKMAL, mengapa mereka menolak Sunnah  dalam kesaksian seorang Muslim bahwa dia sudah melihat hilal?&lt;/strong&gt; Dimana sikap konsisten mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[7]&lt;/strong&gt;. Para pakar falaqiyyah/ahli hisab/astronomi  menuduh bahwa kesaksian beberapa Muslim yang telah melihat hilal pada  saat senja hari, 29 Agustus 2011, sebagai bentuk kebohongan. Masya  Allah, padahal Nabi Saw hanya mempersyaratkan SUMPAH saja untuk  memverifikasi kesaksian itu. Hal tersebut adalah bentuk kemudahan dalam  Syariat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pertanyaannya, “Bagaimana kalau kesaksian beberapa orang  yang mengaku melihat hilal itu benar-benar bohong?” Jawabnya sebagai  berikut:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(a)&lt;/strong&gt;. Kalau mereka dusta, dosanya ditanggung mereka sendiri di hadapan Allah;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(b)&lt;/strong&gt;.  Selama kita sudah berpuasa 29 hari, itu sudah mencukupi ketentuan puasa  Ramadhan. Kecuali kalau puasa kita baru 28 hari, jelas harus  disempurnakan. Jadi, hal semacam ini dibuat ringan saja: &lt;strong&gt;sejauh kita sudah puasa 29 hari dan ada kesaksian Muslim bahwa dirinya telah melihat hilal dan mau disumpah, itu sudah mencukupi&lt;/strong&gt;.&amp;nbsp;  Anda tidak akan disebut maksiyat kepada Allah dan Rasul-Nya karena  telah puasa 29 hari. Bahkan menurut riwayat Ibnu Mas’ud Ra, puasa Nabi  Saw lebih banyak 29 hari, bukan 30 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[8]&lt;/strong&gt;. Sangat berbahaya kita berpuasa saat 1 Syawal  atau saat jatuh hari raya Idul Fithri. Ini berbahaya, haram menurut  Syariat Islam. Siapapun puasa di hari Idul Fithri, hal itu merupakan  maksiyat serius kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam kaidah Sunnah, kalau  ada dua pilihan yang sama-sama halalnya, kita dianjurkan memilih yang  paling ringan. Misalnya, saat dalam safar, kita boleh Shalat secara  sempurna, tapi boleh juga Shalat Qashar. Maka memilih yang lebih ringan  (shalat qashar) itu lebih utama dan lebih sesuai Sunnah. Dalam hal ini,  memilih shaum 29 hari lebih mudah dan lebih sesuai Sunnah Nabi Saw,  daripada berpuasa 30 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[9]&lt;/strong&gt;. Andaikan perhitungan ilmu falaq/ilmu  hisab/astronomi dalam soal Rukyatul Hilal harus diterima sebagai  KEPASTIAN, maka itu sama saja dengan membuang Sunnah Rukyatul Hilal itu  sendiri. Kalau begitu caranya, ya sudah Anda tetapkan saja jadwal  Ramadhan/Syawal secara abadi seperti “jadwal shalat abadi”. Jadi, tidak  usah bertele-tele bicara Rukyatul Hilal. Karena percuma juga kaum  Muslimin melakukan Rukyatul Hilal, kalau nanti tidak sesuai perhitungan  ilmu falaq/ilmu hisab/astronomi, maka Rukyatul Hilal itu tetap akan  ditolak juga (seperti Sidang Itsbat Depag RI tanggal 29 Agustus 2011  itu). Dengan demikian, &lt;strong&gt;dapat disimpulkan bahwa AROGANSI para  pakar ilmu falaq/ilmu hisab/astronomi berhasil membuang Sunnah Rukyatul  Hilal dari kehidupan kaum Muslimin&lt;/strong&gt;. Nah, inilah yang saya sebut sebagai sikap EKSTREM orang-orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[10]&lt;/strong&gt;. Lalu bagaimana dengan nasehat agar kaum  Muslimin lebih mengutamakan PERSATUAN daripada kesaksian Rukyatul Hilal?  Bantahannya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(a). Dalam Surat Ali Imran dikatakan, “&lt;strong&gt;Wa’tashimu bi hablillahi jami’an, wa laa tafarraquu&lt;/strong&gt;.”  Dalam ayat ini berpegang teguh kepada kebenaran DIDAHULUKAN dari  persatuan. Hikmahnya, apa artinya bersatu kalau ingkar terhadap Syariat  Islam?;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(b). Ibnu Mas’ud menjelaskan pengertian Al Jamaah, “&lt;strong&gt;Ittifaqu bil haqqi walau kunta wahid&lt;/strong&gt;”  (sepakat dengan kebenaran walau engkau hanya seorang diri). Kita harus  berpegang dengan kebenaran, meskipun seorang diri;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(c). Dalam Sunnah  disebutkan sabda Nabi Saw, “&lt;strong&gt;Innamat tha’atu fil ma’ruf&lt;/strong&gt;”  (bahwa ketaatan itu hanya dalam hal yang ma’ruf saja). Mengingkari  kesaksian melihat hilal adalah maksiyat serius, harus ditolak, kita tak  boleh mematuhinya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(d). Persatuan yang dikehendaki oleh Islam adalah  persatuan yang Syar’i, bukan persatuan yang membuang kaidah Sunnah  Rasululullah Saw;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(e). Bersatu di atas kebathilan justru sangat dilarang  dalam Islam, seperti disebut dalam Surat Al Maa’idah, “&lt;strong&gt;Wa laa ta’awanuu ‘alal itsmi wal ‘udwan&lt;/strong&gt;”  (jangan kalian bekerjasama di atas dosa dan permusuhan);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(f). Para  ulama, salah satunya Ibnu Utsaimin rahimahullah, mengatakan bahwa kalau  ada Muslim yang melihat hilal, sementara Ulil Amri sudah menyatakan  bahwa hari itu hari berpuasa, maka dia dipersilakan berbuka untuk  dirinya sendiri dan tak mengumumkan hasil pantauan hilalnya. Mengapa  orang itu tidak dilarang berbuka, malah disuruh berbuka di hari itu?  Sebab HARAM berpuasa saat hilal sudah terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian alasan-alasan yang bisa kami sebutkan. Sekali lagi, kami  anjurkan kaum Muslimin untuk membatalkan puasa pada tanggal 30 Agustus  2011 (hari Selasa) ini, dengan keyakinan bahwa sudah masuk tanggal 1  Syawal. Tidak boleh kita puasa di hari 1 Syawal. Dalilnya, sudah ada  kesaksian sebagian Muslim bahwa mereka sudah melihat hilal yang  diperkuat dengan sumpah. Hasil Sidang Itsbat Depag RI tidak bisa  menganulir hasil kesaksian tersebut, sebagaimana Nabi Saw tidak menolak  kesaksian seperti itu. Kecuali, kalau Depag RI menempuh jalan selain  Sunnah Rasulullah Saw. Dan tidak mengapa kita ikut Shalat Id pada hari  Rabu besok, 31 Agustus 2011 sesuai keputusan Sidang Itsbat Depag RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga pernyataan ini bisa bermanfaat dan ikut disebarkan di kalangan  kaum Muslimin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Wallahu a’lam  bisshawaab. Wastaghfirullaha li wa lakum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, 30 Agustus 2011.&lt;br /&gt;Abu Muhammad Waskito.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1309261351433601549-7934515613034056668?l=www.mashariali.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://abisyakir.wordpress.com/2011/08/30/berbukalah-pada-tanggal-30-agustus-2011-wahai-ummat-hilal-sudah-terlihat-terimalah-kemurahan-rabb-mu/#comment-5026' title='Berbukalah Pada Tanggal 30 Agustus 2011 Wahai Ummat!!! Hilal Sudah Terlihat! Terimalah Kemurahan Rabb-mu!'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.mashariali.co.cc/feeds/7934515613034056668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.mashariali.co.cc/2011/09/berbukalah-pada-tanggal-30-agustus-2011.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1309261351433601549/posts/default/7934515613034056668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1309261351433601549/posts/default/7934515613034056668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.mashariali.co.cc/2011/09/berbukalah-pada-tanggal-30-agustus-2011.html' title='Berbukalah Pada Tanggal 30 Agustus 2011 Wahai Ummat!!! Hilal Sudah Terlihat! Terimalah Kemurahan Rabb-mu!'/><author><name>Harry Al-Brebessy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17564538343679164647</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nZ3NBJL1tRw/TA-NNEtnxfI/AAAAAAAAAU8/5xVmm0QqYRU/S220/100_0478.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1309261351433601549.post-2359037352326544882</id><published>2011-09-11T06:21:00.000+07:00</published><updated>2011-09-11T06:21:07.528+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hisab Rukyat'/><title type='text'>Menentukan Awal Bulan Qomariyah dengan Rukyatul Hilal bukan Hisab</title><content type='html'>&lt;h2&gt;&lt;a href="http://alatsari.wordpress.com/2008/09/18/menentukan-awal-bulan-qomariyah-dengan-rukyatul-hilal-bukan-hisab/" rel="bookmark" title="Menentukan Awal Bulan Qomariyah dengan Rukyatul Hilal bukan Hisab"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;Bismillahirahmaanirrahiim.&lt;br /&gt;Alhamdulillah. Wa sholatu’alaa rasulillah wa’alaa ‘alihi wa ash habihi wa man tabi’ahum bi ihsaan illaa yaumiddin. Amma ba’du.&lt;br /&gt;Sesungguhnya perkara yang seringkali ada di bulan Ramadhan dan  Syawwal setiap tahun dan berulang adalah menentukan awal bulan. Baik itu  tanggal 1 Ramadhan ataupun tanggal 1 Syawwal. Allah dan Rasul-Nya telah  mencontohkan berkali-kali tentang hal ini yaitu dengan melihat bulan  bukan dengan hisab (menghitung dengan rumus tertentu). Kita akan bahas  satu per satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="more-118"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dalil Disyari’atkannya Melihat Hilal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;الشهر تسع وعشرون ليلة فلا تصوموا حتى تروه فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;”Bulan itu ada 29 malam (hari). Janganlh kalian mulai berpuasa  hingga melihat bulan. Apabila ia tertutup dari pandangan kalian, maka  sempurnakanlah hitungan hari (dalam satu bulan) menjadi 30 hari”&lt;/i&gt; (HR. Al-Bukhari no. 1907).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;“Berpuasalah jika kalian telah melihat bulan, dan berbukalah jika  kalian melihatnya pula. Dan apabila bulan tertutup (awan) dari  pandangan kalian, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari”&lt;/i&gt; (HR. Al-Bukhari no. 1909 dan Muslim no. 1081)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته وانسكوا لها فإن غم عليكم فأكملوا ثلاثين فإن شهد شاهدان فصوموا وأفطروا&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;“Berpuasalah jika kalian melihat bulan dan  berbukalah jika kalian melihatnya pula, serta menyembelihlah (pada bulan  Dzulhijjah) karena melihatnya. Jika bulan itu tertutup dari pandangan  kalian, maka sempurnakanlah (bulan Sya’ban) menjadi 30 hari. Dan jika  ada dua orang yang memberi kesaksian melihat bulan, maka berpuasalah dan  berbukalah kalian”&lt;/i&gt; (HR. Nasa’i dalam &lt;i&gt;Al-Mujtabaa&lt;/i&gt; no. 2116, Ahmad 4/321, dan Ad-Daruquthni 3/120 no. 2193; lafadh ini milik An-Nasa’i. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam &lt;i&gt;Irwaaul-Ghalil&lt;/i&gt; no. 909).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Apabila hilal telah terlihat yang menandakan tanda mulainya Bulan  Ramadlan (atau bulan-bulan yang lainnya), maka disunnahkan membaca doa :&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 180%;"&gt;اَللهُ  أَكْـبَرُ، اَللّهُمَّ أَهِلَّـهُ عَلَيْـنَا بِاْلأَمْـنِ  وَاْلإِيْمـَانِ، وَالسَّلامَـةِ وَاْلإِسْلامِ، وَالتَّـوْفِيْـقِ لِمَا  تُحِـبُّ وَتَـرْضَـى، رَبُّنـَا وَرَبُّكَ اللهُ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;[Alloohu akbar. Alloohumma ahillahu ‘alainaa bil-amni  wal-iimaan. Was-salaamati wal-islaami, wat-taufiiqi limaa tuhibbu wa  tardloo. Robbunaa wa robbukallooh]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;“Allah Maha Besar. Ya Allah, tampakkan bulan satu itu kepada kami  dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam serta  mendapat taufiq untuk menjalankan apa yang Engkau senang dan rela. Rabb  kami dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah”&lt;/i&gt; (HR. At-Tirmidzi no. 3451, Ad-Daarimi no. 1730, dan Ibnu Hibban dalam &lt;i&gt;Mawaridudh-Dham’an&lt;/i&gt; hal. 589. At-Tirmidzi berkata : Hadits hasan gharib. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam &lt;i&gt;Shahih Sunan At-Tirmidzi&lt;/i&gt; 3/423).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pembahasan Hisab&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan hisab, sebagian besar orang-orang menggunakan dalil hadits nomor &lt;span class="fullpost"&gt;1907  yang diriwayatkan oleh Bukhari tersebut. Namun hal ini sangat tidaklah  tepat. Sebab menggunakan dalil hadits yang mana hadits tersebut  digunakan untuk dalil Rukyat adalah sebuah kesalahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Ada beberapa  faktor yang dianggap menyelisihi sunnah, diantaranya adalah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Dengan metode hisab, seseorang bisa saja memperkirakan dan  menghitung tanggal 1 Ramadhan atau 1 Syawwal jauh sebelum mereka menemui  Ramadhan atau Syawwal. Bahkan dengan metode hisab seseorang bisa saja  menghitung tanggal 1 Ramadhan 20 tahun ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menentukan 1 Ramadhan dan 1 Syawwal telah diajarkan oleh  rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam. Semoderen apapun perhitungan  hisab, seakurat apapun, tapi syari’at tetaplah syari’at. Dan yang benar  adalah harus mengikuti syari’at yang di bawa oleh Rasululloh  shallallahu’alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Perhitungan hisab sudah ada sejak dulu, bahkan sebelum tahun  hijriyah ada, hisab sudah ada sejak dulu. Karena itulah dulu para petani  ataupun para nelayan faham kapan mereka panen, dan juga tahu kapan  terjadi gerhana. Bahkan pada peradaban Mesir sudah ditemukan cara  menghitung hisab, namun Allah dan Rasul-Nya mempunyai sunnah sendiri.  Dan mengikuti sunnah itu lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menganggap hisab lebih baik daripada melihat hilal, maka seseorang  akan terjerumus kepada kesalahan, yaitu meremehkan syari’at yang dibawa  oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam. Dan sungguh aku  nasehatkan kepada kalian untuk berhati-hati dalam masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hari Raya Mengikuti Pemerintah ataukah Menentukan waktu Sendiri?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah kaidah yang disampaikan oleh Syaikh Al Albani:&lt;br /&gt;“Inilah yang sesuai dengan syari’at yang mudah ini (yaitu : berpuasa  dan berhari raya ‘Iedul-Fithri bersama masyarakat/orang banyak – tidak  menyendiri) yang diantara tujuan-tujuannya adalah menyatukan umat dan  menyamakan barisan-barisan mereka, serta menjauhkan mereka dari segala  sesuatu yang dapat mencerai-beraikan persatuan mereka dari  pemikiran-pemikiran individualistis, sehingga syari’at tidaklah memihak  kepada pemikiran seseorang – walaupun benar dari sudut pandang dirinya –  dalam peribadatan yang bersifat jama’i seperti puasa, hari raya, dan  shalat berjama’ah. Tidaklah Anda pernah melihat bahwa para shahabat  radliyallaahu ‘anhum, mereka sebagiannya shalat di belakang lainnya  dalam keadaan di antara mereka ada yang menilai bahwa menyentuh wanita,  kemaluan, atau keluarnya darah termasuk pembatal-pembatal wudlu.  Sebagian mereka ada yang shalat secara sempurna di waktu safar, dan  sebagian lagi ada yang mengqasharnya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendatipun demikian, perselisihan  mereka dengan yang lainnya tidaklah menjadi penghalang bagi mereka  untuk berkumpul (bersatu) di dalam masalah shalat di belakang imam yang  tunggal, sehingga mereka tidak berpecah karenanya. Hal itu karena  pengetahuan mereka bahwa perpecahan dalam agama lebih jelek dari sekedar  perbedaan sebagian pendapat. Bahkan sampai pada tingkatan dimana  sebagian mereka tidak menghiraukan suatu pendapat yang menyelisihi  pendapat imam besar di lingkup yang lebih besar seperti ketika di Mina,  hingga mendorongnya untuk meninggalkan pendapat pribadi secara mutlak  dalam lingkup tersebut, demi menjauhi akibat buruk yang akan ditimbulkan  karena beramal dari hasil pemikirannya (yang menyelisihi imam)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka  diriwayatkan oleh Abu Dawud 1/307 (sebuah contoh yang sangat baik dalam  masalah ini) :&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 130%;"&gt;أن  عثمان رضي الله عنه صلى بمنى أربعا , فقال عبد الله بن مسعود منكرا عليه :  صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم ركعتين , و مع أبي بكر ركعتين , و مع  عمر ركعتين , و مع عثمان صدرا من إمارته ثم أتمها , ثم تفرقت بكم الطرق  فلوددت أن لي من أربع ركعات ركعتين متقبلتين , ثم إن ابن مسعود صلى أربعا !  فقيل له : عبت على عثمان ثم صليت أربعا ! قال : الخلاف شر . &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bahwasannya ‘Utsman radliyallaahu ‘anhu shalat di  Mina empat raka’at, maka berkatalah Abdullah bin Mas’ud dalam rangka  mengingkari perbuatannya : “Aku shalat (ketika safar) bersama Nabi  shallallaahu ‘alaihi wasallam dua raka’at, bersama Abu Bakar dua  raka’at, dan bersama ‘Umar dua raka’at, dan bersama ‘Utsman di awal  pemerintahannya, kemudian beliau melakukannya dengan sempurna (empat  raka’at – tidak diqashar), kemudian kalian berselisih, dan aku ingin  sekiranya empat raka’at itu tetap menjadi dua raka’at (sebagaimana  dilakukan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam) Akan tetapi kemudian Ibnu  Mas’ud shalat empat raka’at. Maka ditanyakan kepadanya : Engkau telah  mencela perbuatan ‘Utsman, namun engkau sendiri shalat empat raka’at ?”.  Maka beliau menjawab : “Perselisihan itu jelek”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;[selesai - Lihat selengkapnya dalam &lt;i&gt;Silsilah Ash-Shahiihah&lt;/i&gt; no. 224].&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sungguh pada sebagian masyarakat hal ini masih ada,  yaitu ada yang mendahului, ada yang mengakhiri. Padahal yang benar  adalah kita harus mengikuti pemerintah yaitu bersama-sama dengan umat  Islam yang lainnya untuk berhari raya bersama-sama. Dan orang yang tidak  melakukannya maka sesungguhnya mereka adalah orang yang ingin  mencerai-beraikan barisan kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Bagaimana Kalau Pemerintah Memakai Hisab?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kita harus mengutamakan persatuan umat, yaitu dengan  ikut merayakan Iedul Fitri atau Iedul Adha bersama-sama, apapun metode  yang mereka gunakan. Walaupun begitu kita tetap yakin dan beriman bahwa  yang benar adalah dengan menggunakan Rukyatul Hilal.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalil-dalil tentang rukyatul Hilal sudah jelas,  bahkan manusia harus mengikuti dalil daripada hawa nafsu mereka. Ini  adalah persoalan iman, persoalan sunnah yang dibawa oleh rasululloh  shallallahu’alaihi wa sallam. Satu pertanyaan yang mengganjal adalah,  “Kalau memang hisab diperbolehkan, kenapa rasululloh shallallahu’alaihi  wa sallam hanya mengajarkan do’a ketika melihat hilal? Kenapa tidak  diajarkan do’a menghitung hisab?” Maka sudah jelas ini adalah syari’at  dari Allah dan bukan buatan semata.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Untuk hisab maka yang paling cocok adalah digunakan  untuk menghitung waktu sholat atau terbit matahari. Namun ini bulan  Qomariyah yang artinya menentukan hari lewat beredarnya bulan bukan  matahari. Maka dari itulah menggunakan rukyatul Hilal adalah &lt;b&gt;satu-satunya cara&lt;/b&gt; menentukan tanggal 1 tiap bulannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Wallahu’alam.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1309261351433601549-2359037352326544882?l=www.mashariali.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://alatsari.wordpress.com/2008/09/18/menentukan-awal-bulan-qomariyah-dengan-rukyatul-hilal-bukan-hisab/' title='Menentukan Awal Bulan Qomariyah dengan Rukyatul Hilal bukan Hisab'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.mashariali.co.cc/feeds/2359037352326544882/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.mashariali.co.cc/2011/09/menentukan-awal-bulan-qomariyah-dengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1309261351433601549/posts/default/2359037352326544882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1309261351433601549/posts/default/2359037352326544882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.mashariali.co.cc/2011/09/menentukan-awal-bulan-qomariyah-dengan.html' title='Menentukan Awal Bulan Qomariyah dengan Rukyatul Hilal bukan Hisab'/><author><name>Harry Al-Brebessy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17564538343679164647</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nZ3NBJL1tRw/TA-NNEtnxfI/AAAAAAAAAU8/5xVmm0QqYRU/S220/100_0478.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1309261351433601549.post-6136567028316665242</id><published>2011-09-11T06:08:00.001+07:00</published><updated>2011-09-11T06:10:36.239+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hisab Rukyat'/><title type='text'>Otoritas dan Kaidah Matematis: Refleksi Atas Perayaan Idul Fitri 1432 H (Tanggapan Atas Kritik Thomas Djamaluddin)</title><content type='html'>&lt;h2 class="singlePageTitle"&gt;&lt;/h2&gt;&lt;span class="postedby"&gt;Oleh: &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/author/syamsulanwar/" title="Profil dari Prof. Dr. H Syamsul Anwar, MA."&gt;Prof. Dr. H Syamsul Anwar, MA.&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr align="left" color="#EEEEEE" noshade="noshade" size="1px" /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2011/09/14341/otoritas-dan-kaidah-matematis-refleksi-atas-perayaan-idul-fitri-1432-h-tanggapan-atas-kritik-thomas-djamaluddin/email/" rel="nofollow" title="Kirim"&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2011/09/14341/otoritas-dan-kaidah-matematis-refleksi-atas-perayaan-idul-fitri-1432-h-tanggapan-atas-kritik-thomas-djamaluddin/print/" rel="nofollow" title="Print"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="dd_ajax_float" style="display: block; margin-left: -120px; position: fixed; top: 16px;"&gt;&lt;div class="dd_button_v"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="dd_button_v"&gt;&lt;span class="db-wrapper db-clear db-medium"&gt;&lt;span class="db-container db-submit"&gt;&lt;span class="db-body db-medium"&gt;&lt;span class="db-count"&gt;0&lt;/span&gt;&lt;a class="db-anchor" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1309261351433601549&amp;amp;postID=6136567028316665242"&gt;digg&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="dd_button_v"&gt;&lt;div id="dd_comments"&gt;&lt;a class="clcount" href="http://www.dakwatuna.com/2011/09/14341/otoritas-dan-kaidah-matematis-refleksi-atas-perayaan-idul-fitri-1432-h-tanggapan-atas-kritik-thomas-djamaluddin/#respond"&gt;&lt;span class="ctotal"&gt;16&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="dd_button_extra_v"&gt;&lt;div class="st_email_custom"&gt;&lt;span id="dd_email_text"&gt;email&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="dd_button_extra_v"&gt;&lt;div id="dd_print_button"&gt;&lt;span id="dd_print_text"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1309261351433601549&amp;amp;postID=6136567028316665242"&gt;print&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="dd_content_wrap"&gt;&lt;div class="wp-caption alignright" id="attachment_14342" style="width: 260px;"&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2011/09/meneropong.jpg?c13ed3" rel="shadowbox[sbpost-14341];player=img;" title="meneropong"&gt;&lt;img alt="" class="size-medium wp-image-14342" height="205" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2011/09/meneropong-250x205.jpg" title="meneropong" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="wp-caption-text"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;dakwatuna.com -&amp;nbsp;&lt;/b&gt;Alhamdulillah  hari raya Idulfitri 1432 H telah dapat dirayakan dengan khidmat.  Walaupun ada perbedaan tentang hari jatuhnya Idulfitri itu, di mana pada  satu sisi ada yang menjatuhkannya pada hari Selasa 30 Agustus 2011 dan  di sisi lain ada yang menjatuhkannya pada hari Rabu 31 Agustus 2011,  namun masing-masing pihak telah dapat menjalankannya dengan damai dan  rukun, tanpa terjadi pertikaian antara pihak-pihak yang merayakannya  pada hari berbeda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bahkan masyarakat umum yang tidak begitu memahami  sumber masalah perbedaan itu dapat memilih hari yang mereka inginkan  untuk ber-Idul Fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi meskipun Idulfitri telah  berjalan dengan damai dan rukun, tetap saja tersisa permasalahan yang  timbul dari perbedaan itu. Tidak dipungkiri bahwa perbedaan jatuhnya  hari raya itu adalah suatu ketidaknyamanan karena ada ketidakbersamaan  kaum Muslimin dalam merayakannya. Di satu sisi ada yang saling kunjung  ke rumah tetangga dan makan-makan, sementara yang lain masih berpuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun juga harus diakui bahwa penyatuan jatuhnya hari Idulfitri itu  tidak gampang, tidak semudah sepasang remaja bikin janji ke pantai  bersama, “Mas Minggu besok rekreasi bareng ya di pantai, soalnya habis  ujian semester pikiranku buntet banget, perlu&amp;nbsp;&lt;i&gt;refreshing&lt;/i&gt;.”&amp;nbsp;  “Ya, setuju, aku juga sama. Dah, besok kuampiri ya!”&amp;nbsp; Selesailah  masalah. Kesepakatan untuk “rekreasi Minggu besok” tidak memerlukan  pertimbangan ilmiah yang mendalam karena itu hanya soal selera dan bisa  diputuskan dengan prinsip “setuju-setuju saja”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tentu tidak  demikian halnya dengan penentuan jatuhnya hari raya semisal Idulfitri  atau Idul Adha. Masalah ini bukan soal selera. Masalah ini memerlukan  suatu kajian panjang dan mendalam baik dari segi ilmu syariah maupun  dari segi ilmu astronomi. Keputusan itu tidak dapat diambil berdasarkan  prinsip “setuju-setuju saja”. Ini semua tentu menjadi tantangan para  ilmuwan terkait baik dari bidang syariah maupun astronomi.&lt;br /&gt;Diskusi  mengenai masalah ini cukup ramai. Dan dalam diskusi yang ramai itu ada  pakar yang langsung menyalahkan Muhammadiyah karena terlalu jumud  berpegang kepada hisab wujudul hilal (walaupun Muhammadiyah juga dapat  mengatakan hal yang sama bahwa pihak lain terlalu kaku berpegang kepada  rukyat atau hisab imkanur rukyat 2 derajat yang tidak ilmiah itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan, “sumber masalah utama adalah Muhammadiyah yang masih kukuh  menggunakan hisab wujudul hilal.” &amp;nbsp;Dikatakan lagi, “Banyak kalangan di  intern Muhammadiyah mengagungkannya, seolah itu sebagai simbol  keunggulan hisab mereka yang mereka yakini, terutama ketika dibandingkan  dengan metode rukyat.&amp;nbsp; Tentu saja mereka [adalah] anggota fanatik  Muhammadiyah, tetapi sesungguhnya tidak paham ilmu hisab, seolah hisab  itu hanya dengan kriteria wujudul hilal.” “Dari segi astronomi, kriteria  wujudul hilal adalah kriteria usang yang sudah lama ditinggalkan di  kalangan ahli falak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya nada statemen ilmuwan tersebut  sangat memihak dan sedikit emosional juga terasa ada semacam (dengan  bahasa diperhalus) “kebanggaan” tersembunyi atas status sebagai astronom  senior. Seolah-olah apa yang berjalan sekarang ini, itulah yang betul  dan karena itu tidak dikritik. Justru yang mengkritik dan menolak, dalam  hal ini Muhammadiyah, adalah pihak yang harus dipersalahkan sebagai  biang keladi permasalahan. Dalam sejumlah tulisan pakar bersangkutan,  penulis belum menemukan kritik-kritiknya terhadap penetapan awal bulan  kamariah yang berlaku sekarang, kecuali kritik terhadap kriteria yang  dipakai sebagian ormas seperti Muhammadiyah. Juga disayangkan pakar  bersangkutan belum pernah menyarankan satu rancangan kalender pemersatu  yang pasti padahal di tangannya terdapat perangkat ilmu untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah  orang Muhammadiyah sangat fanatik terhadap hisab wujudul hilal? Hal itu  mungkin saja demikian, tetapi jelas tidak semuanya. Tentu banyak  ahli-ahli falak Muhammadiyah yang juga mengerti hisab yang lain dan  dapat membandingkannya dan kemudian dari hasil perbandingan itu  menjatuhkan pilihan pada hisab wujudul hilal. Penulis sendiri adalah  warga Muhammadiyah (dengan bidang studi syariah, bukan astronomi) yang  tentu secara emosional akan sangat bersimpati dengan kebijakan penetapan  awal bulan Muhammadiyah. Tetapi di sini penulis tidak ingin membela  hisab wujudul hilal. Hisab wujudul hilal hanyalah salah satu metode  hisab penentuan awal bulan di antara sekian metode hisab yang ada.  Walaupun demikian tentu boleh memberi pendapat. Cuma memang pasti akan  dirasakan sebagai sebuah pendapat apologis karena diberikan oleh orang  yang secara emosional adalah bagian daripadanya. Namun demikian silakan  pembaca untuk melihatnya secara obyektif saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau soal  usangnya, menurut penulis, hisab wujudul hilal tidak usang-usang banget.  Hisab ini merupakan perkembangan dari hisab-hisab sebelumnya yang  dirasa tidak dapat memberikan kepuasan. Di Arab Saudi, hisab wujudul  hilal dipakai oleh Pusat King Abdul Aziz untuk Pengembangan Sains dan  Teknologi, yang bertanggung jawab atas penyusunan kalender resmi  pemerintah Arab Saudi Kalender Ummul Qura yang berkembang luas di  berbagai bagian dunia termasuk digunakan oleh Windows Vesta, baru pada  tahun 1424 H (baru sejak 7 tahun lalu) karena kasus bulan Rajab 1424 H  (Agustus 2003). Sampai saat itu kaidah kalender yang digunakan adalah&amp;nbsp;&lt;i&gt;moonset after sunset&amp;nbsp;&lt;/i&gt;(artinya  bahwa apabila pada sore hari ke-29 bulan berjalan, bulan terbenam  sesudah terbenamnya matahari, maka malam itu dan keesokan harinya adalah  bulan baru). Namun ternyata kaidah kalender tersebut mengalami problem  dengan “hilal” Rajab 1424 H pada sore Rabu 27 Agustus 2003 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sore  itu matahari terbenam di Mekah (Ka’bah) pukul 18:45 Waktu Saudi dan  bulan terbenam 8 menit kemudian, yakni pukul 18:53 Waktu Saudi. Jadi  kriteria bulan baru telah terpenuhi, yaitu bulan tenggelam sesudah  tenggelamnya matahari, sehingga mestinya malam Kamis 28 Agustus 2003 M  dan keesokan harinya (Kamis 28 Agustus 2003 M) adalah tanggal 1 Sya’ban  1424 H. Tetapi ternyata saat matahari terbenam sore Rabu 27 Agustus 2003  itu belum terjadi ijtimak (konjungsi) karena ijtimak terjadi hampir dua  jam kemudian, yakni pukul 18:26 Waktu Saudi. Karena kasus ini, para  penanggung jawab kalender Ummul Qura memperbaiki kaidah kalendernya  dengan menambahkan satu parameter baru, yakni saat matahari terbenam  harus sudah terjadi ijtimak. Sejak saat itu kemudian kalender Ummul Qura  memakai wujudul hilal. Jadi ini adalah perkembangan dari metode  sebelumnya yang dirasa tidak memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Muhammadiyah  hisab wujudul hilal sudah digunakan sejak abad yang lalu. Sejak penulis  mulai masuk menjadi pengurus Muhammadiyah tahun 1985 di PMW DIY dan  sejak tahun 1990 di Pimpinan Pusat, hisab ini sudah dipakai dan terus  berlaku hingga sekarang. Ada perubahan, namun hanya perubahan cara  menghitung, bukan perubahan kriteria (kaidah memulai bulan baru). Harap  dibedakan antara kaidah memasuki bulan baru dan metode perhitungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaidah memasuki bulan baru dalam hisab wujudul hilal adalah tiga  parameter yang kita semua sudah tahu, yaitu (1) telah terjadi ijtimak,  (2) ijtimak itu terjadi sebelum matahari terbenam, (3) saat matahari  terbenam hilal di atas ufuk. Kriteria ini adalah suatu kriteria yang  sifatnya non penampakan, karena itu tidak memerlukan observasi untuk  mengujinya seperti halnya peristiwa ijtimak dan terbenamnya matahari  tidak diobservasi. Kalau diragukan akurasi kriteria ini, jangan-jangan  bulan sebetulnya di bawah ufuk, namun diklaim di atas ufuk karena kurang  akurasinya perhitungan, maka ini bukan soal kriteria itu sendiri,  melainkan ini adalah soal akurasi metode menghitung posisi bulan. Metode  menghitung ini bisa terus menerus diperbaiki. Dalam praktik wujudul  hilal di Muhammadiyah metode menghitung ini mengalami perkembangan dalam  hal daftar ephemeris yang menjadi sumber data benda langit pada waktu  tertentu yang digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Zaman Kiyai Wardan, sebagaimana  disebutkannya dalam bukunya&amp;nbsp;&lt;i&gt;Hisab Urfi dan Hakiki&lt;/i&gt;, digunakan daftar yang diambilnya sebagian dari kitab&amp;nbsp;&lt;i&gt;al-Mathla’ as-Sa’id fi Hisabat al-Kawakib ‘ala ar-Rashd al-Jadid&amp;nbsp;&lt;/i&gt;dan dari&amp;nbsp;&lt;i&gt;Zij Aala’uddin Ibn Syathir&lt;/i&gt;, kemudian pada zaman&amp;nbsp;&lt;i&gt;Sa’duddin Dajmbek&amp;nbsp;&lt;/i&gt;digunakan digunakan&amp;nbsp;&lt;i&gt;nautical almanac&lt;/i&gt;, lalu terakhir digunakan&amp;nbsp;&lt;i&gt;Ephemeris Hisab Rukyat.&lt;/i&gt;Bahkan  rumus hitungannya pun terbuka untuk dikoreksi tanpa mengubah kaidah  memasuki bulan baru itu sendiri. Kalau metode hitung ini juga mau diuji  secara empiris pun bisa dilakukan tanpa mengubah kriterianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika  hilal dihitung dengan metode ini ternyata tingginya adalah 6 derajat  seperti jelang Ramadan lalu, maka silakan diuji melalui observasi apa  memang betul tingginya 6 derajat. Kalau betul, berarti hitungan itu  akurat atau mendekati akurat. Kalau tidak, berarti metode menghitungnya  harus diperbaiki tanpa mengubah kaidah bulan baru itu sendiri. Jadi  alasan bahwa hisab wujudul hilal lemah karena tidak dapat diuji secara  empiris adalah tidak relevan. Apa yang dikemukakan di atas adalah suatu  pendapat, tidak bermaksud memberikan apologi terhadap keunggulan wujudul  hilal. Silakan pembaca menilainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis juga ingin mengajak  pembaca untuk melihat suatu yang menurut penulis adalah hal positif  dalam kebijakan penetapan awal bulan Muhammadiyah itu. Tetapi ini  mungkin sekali lagi terasa sebagai sebuah apologi karena dikemukakan  oleh orang yang merupakan bagian dari sistem bersangkutan. Tetapi tujuan  penulis di sini tidak hendak berapologi. Hanya ingin mengemukakan  pendapat. Ini tentu sah-sah saja, dan sekali lagi silakan pembaca  melihatnya secara obyektif saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal positif dimaksud adalah bahwa dalam  kebijakan penetapan awal bulan Muhammadiyah itu terkandung&amp;nbsp;&lt;i&gt;suatu nilai edukasi bagi masyarakat luas&lt;/i&gt;&amp;nbsp;bahwa  suatu sistem penanggalan yang baik adalah suatu sistem kalender yang  dapat memberikan penjadwalan waktu yang akurat dan pasti jauh ke depan  sehingga bisa dipedomani jauh-jauh hari sebelumnya. Sistem yang tidak  dapat memberikan penjadwalan waktu (hari/tanggal) yang pasti jauh ke  depan adalah suatu sistem yang buruk dan bertentangan sifat sebagai  sebuah kalender yang terstruktur secara seksama, bahkan bertentangan  dengan maksud dari kalender itu sendiri. Sistem kalender bertujuan untuk  memudahkan masyarakat penggunanya merencanakan kegiatannya disesuaikan  dengan sistem penjadwalan waktu yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu sistem waktu  tersebut harus akurat dan pasti agar rencana kegiatannya tidak menjadi  berantakan akibat sistem waktu yang tidak pasti. Suatu sistem  penanggalan yang akurat dan bagus harus dapat menjadwalkan waktu secara  pasti ke depan dan harus dapat dilacak secara pasti pula jadwal waktunya  di masa lalu. Untuk itu penetapan jadwal waktu itu harus lahir dari  kaidah matematis kalender itu sendiri tanpa campur tangan otoritas luar  mana pun selain dari kaidah kalender tersebut. Apabila setiap penetapan  momen penting ditentukan oleh suatu otoritas lain di luar kaidah  matematis kalender itu sendiri, maka kita akan menghadapi penjadwalan  waktu yang tidak pasti karena jadwal waktu tersebut akan sangat  tergantung kepada ketetapan yang akan dikeluarkan pada detik-detik akhir  menjelang saat dimulainya momen bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya juga kita  tidak dapat melacak jadwal waktu penanggalan tersebut di masa lalu  karena tidak lahir dari kaidah matematisnya yang ajek. Kita harus  mencari arsip surat keputusan otoritas yang menetapkannya hari apa ia  menjatuhkan 1 Syawal tahun tertentu di masa lampau. Ini adalah sistem  yang buruk. Saudara-saudara kita umat Kristiani dalam menentukan kapan  melakukan selebrasi hari Natal telah dapat mengetahui hari jatuhnya jauh  hari sebelumnya berdasarkan kaidah kalender Masehi yang mereka gunakan,  bukan karena keputusan otoritas penguasa yang melakukan isbat menjelang  saat dimulainya momen itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi apabila Muhammadiyah dikatakan  terlalu kuat berpegang kepada hisab, hal itu adalah karena alasan ini.  Dari segi kesederhanaan prosedur, biaya murah, dan kemampuan memberikan  kepastian jadwal tanggal di masa depan, pendekatan Muhammadiyah jauh  lebih maju. Dalam sistem kalendernya, penentuan tanggal merupakan hasil  dari logika kalender sendiri tanpa campur tangan Pimpinan Pusat  Muhammadiyah dan memang ia tidak mempunyai kewenangan itu. Pimpinan  Pusat hanya mengumumkan hasil dari sistem kalender itu sendiri dan  karena itu dapat dilakukannya jauh hari sebelumnya dan itu sangat  memudahkan bagi masyarakat untuk menyusun dan menyesuaikan kegiatan  hidupnya. Memang, kalender Muhammadiyah itu belum bersifat global dan  ini tentu menjadi tantangan para ahli ilmu falak dan astronom  Muhammadiyah untuk melakukan kajian guna menyempurnakan sistemnya hingga  dapat menjadi suatu kalender pemersatu yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan  penggunaan hisab dengan memastikan penjadwalan waktu jauh hari  sebelumnya sekaligus merupakan suatu kritik yang tidak diucapkan,  melainkan disampaikan melalui praktik, terhadap kebijakan penjadwalan  waktu dalam kalender yang, maaf kalau ini subjektif, amat buruk yang  berlaku sekarang. Bayangkan menjelang detik-detik terakhir, awal bulan  baru belum dapat ditentukan karena otoritas “berwenang” belum  menetapkannya. Betapa tidak buruk, orang Muslim di Indonesia bagian  timur sudah pukul 10:00 malam WIT masih belum mendapat kepastian apakah  masih akan shalat tarawih atau akan melakukan takbiran untuk menyambut  datangnya lebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ternyata besoknya belum lebaran berarti mereka  akan melaksanakan shalat tarawih setelah jam 10:00 malam itu yang mereka  mungkin sudah ngantuk dan lelah karena seharian berpuasa dan bekerja  berat. Seandainya ada suatu sistem kalender yang pasti yang bisa  menetapkan penjadwalan waktu jauh hari sebelumnya berdasarkan kaidah  kalender itu sendiri, maka para tokoh alim ulama, para pakar ilmuwan dan  para pejabat yang berkumpul di sidang isbat itu tentunya akan bisa  berada di masjid untuk shalat tarawih bila menurut kalender lebarannya  lusa, atau takbiran guna menyambut lebaran besok harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis  setahun lalu pernah mendapat keluhan dari mahasiswa Indonesia yang  kuliah di luar negeri di mana umat Islam minoritas. Keluhannya adalah  mendapat kesulitan untuk menyewa tempat shalat id karena tempat tersebut  harus di&lt;i&gt;booking&amp;nbsp;&lt;/i&gt;jauh hari sebelum id, sementara ketentuan  lebarannya belum pasti kapan karena masih menunggu hasil rukyat. Serta  banyak lagi keluhan lain semisal pekerja Muslim di negara minoritas  Islam sulit mendapatkan cuti Idulfitri karena tidak bisa memberi  kepastian jatuhnya id jauh hari sebelumnya.&lt;br /&gt;Semua ini terjadi  karena tiadanya suatu sistem kalender yang memastikan tanggal  berdasarkan kaidah kalender itu sendiri. Yang ada adalah menanti  keputusan otoritas kekuasaan yang akan memutuskannya pada detik-detik  terakhir menjelang hari H. Selain itu penyelenggaraan sidang isbat untuk  menentukan kepastian tanggal itu juga tentu memakan biaya besar,  apalagi ditambah dengan biaya tim pengintai hilal di puluhan titik  pengamatan. Apabila sistem kalender menggunakan metode yang lebih  sederhana tetapi pasti tentu biaya itu tidak perlu dikeluarkan. Apa itu  bukan sebuah pemborosan yang sebetulnya bisa digunakan untuk keperluan  lain yang lebih mendesak. Akan tetapi hal ini memang tidak dapat  dielakkan dalam suatu sistem penetapan awal bulan yang berbasis rukyat  karena rukyat harus divalidasi oleh otoritas berwenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para  astronom yang terlibat dengan persoalan ini nampaknya tidak memberi  perhatian serius terhadap masalah ini. Tidak pernah terdengar  kritik-kritik mereka, seakan sistem yang ada ini adalah hal yang wajar  saja. Untuk sebagian mungkin dapat dimaklumi karena mereka adalah bagian  dari sistem itu sendiri. Bahkan bukan hanya sekedar bagian, melainkan  juga adalah pendukung bersemangat yang tidak kurang “fanatiknya  dibandingkan dengan kefanatikan pendukung wujudul hilal dalam  Muhammadiyah.” Para pendukung sistem sekarang ini juga terbelenggu oleh  metode mereka sendiri sehingga tidak dapat memanfaatkan perangkat  keilmuan yang ada di tangan mereka untuk suatu pembaruan yang  berorientasi kepada suatu sistem penanggalan yang dapat menjadwalkan  waktu secara pasti di masa depan dan juga dapat melacak tanggal di masa  lalu secara akurat melalui kaidah sistem itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat untuk  pembaruan ini memang berat. Kita harus ridha meninggalkan rukyat yang  sesungguhnya hanyalah warisan masa lalu yang telah usang dan tidak lagi  mampu memenuhi hajat sistem penanggalan umat Islam kontemporer. Bahkan,  menurut Ketua Asosiasi Astronomi Maroko, “sebab umat Islam belum dapat  memiliki suatu sistem penanggalan global terpadu adalah karena mereka  masih terlalu kuat berpegang kepada rukyat.” Jadi sudah saatnya kita  beranjak dari rukyat jika kita ingin mencapai suatu sistem penanggalan  yang baik. Ini bukan pendapat subjektif personal, melainkan hasil dari  sebuah konferensi internasional yang juga dihadiri oleh para pakar yang  sebagian mereka memiliki reputasi dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada butir kedua dari  kesimpulan Temu Pakar II tahun 2008 ditegaskan bahwa para peserta telah  menyepakati bahwa pemecahan problematika penetapan bulan kamariah di  kalangan umat Islam tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan  penerimaan terhadap hisab dalam menetapkan awal bulan kamariah, seperti  halnya penggunaan hisab untuk menentukan waktu-waktu shalat. Para ahli  fiqih pun banyak yang berpendapat demikian. Bahkan Syeikh Syaraf  al-Qudhah, setelah melakukan kajian terhadap ayat-ayat al-Quran dan  hadits-hadits terkait masalah hisab-rukyat menegaskan&amp;nbsp;&lt;i&gt;al-ashlu fi itsbat asy-syahri an yakuna bil-hisab&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(pada  asasnya penetapan awal bulan itu adalah dengan hisab). Di sini bukan  tempatnya untuk menjelaskan argumen beliau untuk pandangannya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hisab  imkanu rukyat, yang sering diklaim sebagai alternatif terbaik, bukannya  tanpa masalah. Kriteria imkanu rukyat sendiri ada sebanyak pakar yang  mengusulkannya. Akan tetapi ini mungkin bisa diatasi dengan para pakar  itu sendiri bersepakat. Tetapi bukan sekedar sepakat, melainkan  berdasarkan hasil riset yang komprehensif. Akan tetapi terlepas dari  soal kriteria itu, hisab imkanu rukyat yang ada sekarang masih belum  dapat menyatukan penanggalan umat Islam. Sebagai contoh adalah Kalender  Hijriah Universal (al-Taqwim al-Hijri al-‘Alami) yang dibuat oleh  Muhammad Audah (Odeh). Kalender ini didasarkan kepada kriteria imkanu  rukyat Audah sendiri sebagai hasil analisis statistik terhadap 737 hasil  rukyat akurat dan teruji. Namun problemnya kalender ini masih harus  membelah dunia menjadi dua zona tanggal yang pada masing-masingnya  berlaku tanggal berbeda pada tahun tertentu. Akibatnya kalender ini  tidak dapat menyatukan jatuhnya hari Arafah antara Mekah dan kawasan  dunia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Audah adalah pendukung rukyat bersemangat. Baginya tidak  mungkin memulai awal bulan baru di dunia Islam tanpa terjadinya imkanu  rukyat di salah satu tempat di kawasan dunia Islam yang terbentang dari  Maroko hingga Indonesia. Namun kalendernya sendiri dalam sejumlah kasus  menjadikan dunia Islam masuk bulan baru pada hal imkanu rukyat dengan  teropong hanya terjadi pada kawasan sangat kecil di barat Portugal atau  di bagian barat Inggris. Dari 20 tahun jadwal tanggal dalam Kalender  Hijriah Universal Audah ini (sejak 1431 H s/d 1450 H) terdapat 9 kali  (45 %) terjadinya perbedaan jatuhnya hari Arafah sehingga menimbulkan  masalah kapan melaksanakan puasa Arafah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat bahwa hari  Arafah hanya penamaan hari 9 Zulhijjah, sama dengan hari Nahar (10  Zulhijjah) dan hari Tasyrik (11-13 Zulhijjan), dan hari Arafah di Arafah  adalah hari wukuf, tetapi tidak harus sama untuk seluruh dunia sehingga  puasa Arafah boleh beda harinya dengan hari wukuf di Arafah, pendapat  tersebut bukanlah suatu penjelasan ilmiah. Pendapat ini hanya penjelasan  sementara yang sifatnya lebih politis, bukan syar’i, yang hanya dapat  dipegangi sementara waktu saat kalender umat Islam masih kucar kacir.  Pendapat ini hanya untuk menenangkan masyarakat yang tanggal 9  Zulhijahnya jatuh berbeda dengan hari Arafah di Mekah. Apabila dikatakan  bahwa mereka yang berpuasa Arafah pada tanggal 9 Zulhijah di tempatnya  sementara di Mekah sudah Idul Adha (10 Zulhijah) tidak sah puasanya,  maka akan timbul kebingungan di tengah masyarakat yang tidak tahu  apa-apa tentang problem penanggalan Islam. Akan tetapi secara ilmiah dan  berdasarkan sistem penanggalan yang valid, hari Arafah harus jatuh sama  di seluruh dunia, dan kalender yang menjatuhkannya berbeda adalah  kalender yang tidak valid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah mengapa dikatakan bahwa  penyatuan penanggalan Islam harus bersifat global. Siapa pun yang  membuat suatu rancangan kalender Islam, maka kaidah kalender itu harus  bersifat global dengan prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia,  sehingga penanggalan tersebut benar-benar menjadi suatu sistem penandaan  hari yang akurat di dalam aliran waktu di masa lalu, kini dan akan  datang. Kalau dikatakan bahwa perbedaan jatuhnya hari Arafah (9  Zulhijah) itu adalah suatu konsekuensi yang tidak terelakkan, maka ini  dapat dikatakan sebagai suatu konsekuensi yang buruk. Konsekuensi buruk  ini tentu timbul dari anteseden yang buruk pula, yaitu rukyat atau hisab  imkanu rukyat yang selalu membelah bumi dan kurve yang membelah bumi  itu dijadikan batas tanggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan halnya imkanu rukyat 2 derajat  sebagaimana diamalkan di Kemenag adalah kaidah kalender yang sama sekali  tidak ada dasar syar’inya apalagi dasar astronomis. Semua astronom  tentu sangat mengetahui hal ini. Para meter tunggal saja, yaitu  ketinggian, adalah parameter yang buruk. Para astronom sudah hampir  sepakat bahwa parameter imkanu rukyat yang baik haruslah sekurangnya  ganda, misalnya ketinggian plus elongasi, atau ketinggian plus lebar  permukaan bulan yang tersinari matahari yang menghadapi ke bumi, dan  lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parameter tunggal, seperti ketinggian saja, elongasi  saja, umur bulan saja atau mukus hilal saja, sama sekali tidak akan  dapat meramalkan visibilitas hilal secara lebih shahih. Apalagi kalau  parameter tunggal itu cuma dengan ukuran ketinggian 2 derajat. Ini dalam  kasus tertentu hanya akan membuat kita hidup dalam ilusi atau bahkan  bisa juga dalam kepalsuan atau kebohongan. Apabila ketinggian bulan  berada antara 2 s/d 5 derajat, maka ini berpotensi untuk terjadinya apa  yang dikatakan di atas. Seperti kasus Ramadan tahun lalu, ketinggian  hilal hanya sekitar 2,5 derajat. Namun diputuskan hilal telah dapat  terlihat karena ada saksi-saksi yang mengklaim dapat merukyat dan  karenanya keesokan harinya dinyatakan bulan baru (seperti Ramadan 1431  H).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal tidak ada seorang astronom pun dapat membuktikannya  terlihat. Data ketinggian hilal Ramadan 1431 H itu jauh di bawah  kriteria imkanu rukyat Audah, bahkan juga kriteria Istanbul 78. Salah  seorang teman dosen pengajar ilmu falak mengatakan bahwa selama 7 tahun  pengalamannya mengikuti rukyat belum pernah terjadi bahwa hilal dengan  ketinggian di bawah 5 derajat dapat terukyat. Apa ini tidak berarti  bahwa kita hidup dalam ilusi atau di bawah bayang-bayang kepalsuan.  Kenapa kita tidak realistis saja? Kenapa kita tidak&amp;nbsp;mengambil sistem  yang lebih sederhana, tidak berbiaya tinggi, tetapi dapat memberikan  kepastian jadwal tanggal jauh ke depan sehingga memudahkan kehidupan  kita? Wallahu a’lam bis-sawab. Allahummagfir li khata’i. Innaka  antal-gafurur-rahim.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1309261351433601549-6136567028316665242?l=www.mashariali.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.dakwatuna.com/2011/09/14341/otoritas-dan-kaidah-matematis-refleksi-atas-perayaan-idul-fitri-1432-h-tanggapan-atas-kritik-thomas-djamaluddin/' title='Otoritas dan Kaidah Matematis: Refleksi Atas Perayaan Idul Fitri 1432 H (Tanggapan Atas Kritik Thomas Djamaluddin)'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.mashariali.co.cc/feeds/6136567028316665242/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.mashariali.co.cc/2011/09/otoritas-dan-kaidah-matematis-refleksi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1309261351433601549/posts/default/6136567028316665242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1309261351433601549/posts/default/6136567028316665242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.mashariali.co.cc/2011/09/otoritas-dan-kaidah-matematis-refleksi.html' title='Otoritas dan Kaidah Matematis: Refleksi Atas Perayaan Idul Fitri 1432 H (Tanggapan Atas Kritik Thomas Djamaluddin)'/><author><name>Harry Al-Brebessy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17564538343679164647</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nZ3NBJL1tRw/TA-NNEtnxfI/AAAAAAAAAU8/5xVmm0QqYRU/S220/100_0478.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1309261351433601549.post-7940911425986945741</id><published>2011-09-11T05:55:00.001+07:00</published><updated>2011-09-11T05:59:49.518+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hisab Rukyat'/><title type='text'>Muhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab</title><content type='html'>T. Djamaluddin&lt;br /&gt;Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN&lt;br /&gt;Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementeria Agama RI&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2011/08/pedoman-hisab-muhammadiyah1.jpg"&gt;&lt;img alt="" class="alignnone size-medium wp-image-1470" height="300" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2011/08/pedoman-hisab-muhammadiyah1.jpg?w=209&amp;amp;h=300" title="Pedoman Hisab Muhammadiyah" width="209" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan Idul Fitri dan Idul Adha sering terjadi di Indonesia.  Penyebab utama BUKAN perbedaan metode hisab (perhitungan) dan rukyat  (pengamatan), tetapi pada perbedaan kriterianya. Kalau mau lebih  spesifik merujuk akar masalah, sumber masalah utama adalah Muhammadiyah  yang masih kukuh menggunakan hisab wujudul hilal. Bila posisi bulan  sudah positif di atas ufuk, tetapi ketinggiannya masih sekitar batas  kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat, batas kemungkinan untuk  diamati) atau lebih rendah lagi, dapat dipastikan terjadi perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan terakhir kita alami pada Idul Fitri 1327 H/2006 M dan 1428  H/2007 H serta Idul Adha 1431/2010. Idul Fitri 1432/2011 tahun ini juga  hampir dipastikan terjadi perbedaan. Kalau kriteria Muhammadiyah tidak  diubah, dapat dipastikan awal Ramadhan 1433/2012, 1434/2013, dan  1435/2014 juga akan beda. Masyarakat dibuat bingung, tetapi hanya  disodori solusi sementara, “mari kita saling menghormati”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah solusi  permanennya? Ada, &lt;b&gt;Muhammadiyah bersama ormas-ormas Islam harus bersepakati untuk mengubah kriterianya&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa perbedaan itu pasti terjadi ketika bulan pada posisi yang  sangat rendah, tetapi sudah positif di atas ufuk? Kita ambil kasus  penentuan Idul Fitri 1432/2011. Pada saat maghrib 29 Ramadhan 1432/29  Agustus 2011 tinggi bulan di seluruh Indonesia hanya sekitar 2 derajat  atau kurang, tetapi sudah positif. Perlu diketahui, kemampuan hisab  sudah dimiliki semua ormas Islam secara merata, termasuk NU dan Persis,  sehingga data hisab seperti itu sudah diketahui umum. Dengan perangkat  astronomi yang mudah didapat, siapa pun kini bisa menghisabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan  posisi bulan seperti itu, Muhammadiyah sejak awal sudah mengumumkan Idul  Fitri jatuh pada 30 Agustus 2011 karena bulan (“hilal”) sudah wujud di  atas ufuk saat maghrib 29 Agustus 2011. Tetapi Ormas lain yang  mengamalkan hisab juga, yaitu Persis (Persatuan Islam), mengumumkan Idul  Fitri jatuh pada 31 Agustus 2011 karena mendasarkan pada kriteria imkan  rukyat (kemungkinan untuk rukyat) yang pada saat maghrib 29 Agustus  2011 bulan masih terlalu rendah untuk bisa memunculkan hilal yang  teramati. NU yang mendasarkan pada rukyat masih menunggu hasil rukyat.  Tetapi, dalam beberapa kejadian sebelumnya seperti 1427/2006 dan  1428/2007, laporan kesaksian hilal pada saat bulan sangat rendah sering  kali ditolak karena tidak mungkin ada rukyat dan seringkali pengamat  ternyata keliru menunjukkan arah hilal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jadi, selama Muhammadiyah masih bersikukuh dengan kriteria  wujudul hilalnya, kita selalu dihantui adanya perbedaan hari raya dan  awal Ramadhan.&lt;/b&gt;&amp;nbsp; Seperti apa sesungguhnya hisab wujudul hilal  itu? Banyak kalangan di intern Muhammadiyah mengagungkannya, seolah itu  sebagai simbol keunggulan hisab mereka yang mereka yakini, terutama  ketika dibandingkan dengan metode rukyat.&amp;nbsp; Tentu saja mereka anggota  fanatik Muhammadiyah, tetapi sesungguhnya tidak faham ilmu hisab, seolah  hisab itu hanya dengan kriteria wujudul hilal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oktober 2003 lalu saya diundang Muhammadiyah sebagai narasumber pada  Munas Tarjih ke-26 di Padang. Saya diminta memaparkan “Kritik terhadap  Teori Wujudul Hilal dan Mathla’ Wilayatul Hukmi”. Saya katakan&amp;nbsp; wujudul  hilal hanya ada dalam teori, tidak mungkin bisa teramati. Pada  kesempatan lain saya sering mangatakan teori/kriteria wujudul hilal  tidak punya landasan kuat dari segi syar’i dan astronomisnya. Dari segi  syar’i, tafsir yang merujuk pada QS Yasin 39-40 terkesan dipaksakan  (rincinya silakan baca blog saya &lt;a href="http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/27/2011/07/28/hisab-dan-rukyat-setara-astronomi-menguak-isyarat-lengkap-dalam-al-quran-tentang-penentuan-awal-ramadhan-syawal-dan-dzulhijjah/"&gt;http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/07/28/hisab-dan-rukyat-setara-astronomi-menguak-isyarat-lengkap-dalam-al-quran-tentang-penentuan-awal-ramadhan-syawal-dan-dzulhijjah/&lt;/a&gt; ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi astronomi, kriteria wujudul hilal adalah kriteria usang yang sudah lama ditinggalkan di kalangan ahli falak.&lt;br /&gt;Kita ketahui, metode penentuan kalender yang paling kuno adalah hisab  urfi (hanya berdasarkan periodik, 30 dan 29 hari berubalang-ulang, yang  kini digunakan oleh beberapa kelompok kecil di Sumatera Barat dan Jawa  Timur, yang hasilnya berbeda dengan metode hisab atau rukyat modern).  Lalu berkembang hisab &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; (visibilitas hilal,  menghitung kemungkinan hilal teramati), tetapi masih menggunakan hisab  taqribi (pendekatan) yang akurasinya masih rendah. Muhammadiyah pun  sempat menggunakannya pada awal sejarahnya. Kemudian untuk menghindari  kerumitan imkan rukyat, digunakan hisab&lt;i&gt; ijtimak qablal ghurub&lt;/i&gt; (konjungsi sebelum matahari terbenam) dan hisab &lt;i&gt;wujudul hilal&lt;/i&gt; (hilal wujud di atas ufuk yang ditandai bulan terbenam lebih lambat daripada matahari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kriteria&lt;i&gt; ijtimak qablal ghurub&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;wujudul hilal&lt;/i&gt;  mulai ditinggalkan, kecuali oleh beberapa kelompok atau negara yang  masih kurang keterlibatan ahli hisabnya, seperti oleh Arab Saudi untuk  kalender Ummul Quro-nya. Kini para pembuat kalender cenderung  menggunakan kriteria &lt;i&gt;imkan rukyat&lt;/i&gt; karena bisa dibandingkan dengan hasil rukyat. Perhitungan&lt;i&gt; imkan rukyat&lt;/i&gt;  kini sangat mudah dilakukan, terbantu dengan perkembangan perangkat  lunak astronomi. Informasi imkanrur rukyat atau visibilitas hilal juga  sangat mudah diakses secara online di internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammdiyah yang tampaknya terlalu ketat menjauhi rukyat terjebak  pada kejumudan (kebekuan pemikiran) dalam ilmu falak atau astronomi  terkait penentuan sistem kelendernya. Mereka cukup puas dengan wujudul  hilal, kriteria lama yang secara astronomi dapat dianggap usang. Mereka  mematikan tajdid (pembaharuan) yang sebenarnya menjadi nama lembaga&lt;i&gt; think tank&lt;/i&gt;  mereka, Majelis Tarjih dan Tajdid. Sayang sekali. Sementara ormas Islam  lain terus berubah. NU yang pada awalnya cenderung melarang rukyat  dengan alat, termasuk kacamata, kini sudah melengkapi diri dengan  perangkat lunak astronomi dan teleskop canggih. Mungkin jumlah ahli  hisab di NU jauh lebih banyak daripada di Muhammadiyah, walau mereka  pengamal rukyat. Sementara Persis (Persatuan Islam), ormas “kecil” yang  sangat aktif dengan Dewan Hisab Rukyat-nya berani beberapa kali mengubah  kriteria hisabnya. Padahal, Persis&amp;nbsp; kadang mengidentikan sebagai  “saudara kembar” Muhammadiyah karena memang mengandalkan hisab, tanpa  menunggu hasil rukyat. Persis beberapa kali mengubah kriterianya, dari &lt;i&gt;ijtimak qablal ghrub&lt;/i&gt;, imkan rukyat 2 derajat, wujudul hilal di seluruh wilayah Indonesia, sampai imkan rukyat astronomis yang diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi penyatuan ummat melalui kalender hijriyah, memang saya sering  mengkritisi praktek hisab rukyat di NU, Muhammadiyah, dan Persis. NU dan  Persis sangat terbuka terhadap perubahan. Muhammadiyah cenderung  resisten dan defensif dalam hal metode hisabnya. Pendapatnya tampak  merata di kalangan anggota Muhammadiyah, seolah hisab itu hanya dengan  kriteria wujudul hilal. Itu sudah menjadi keyakinan mereka yang katanya  sulit diubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan tajdid (pembaharuan) dalam ilmu hisab dimatikannya  sendiri. Ketika diajak membahas kriteria imkan rukyat, tampak apriori  seolah itu bagian dari rukyat yang terkesan dihindari.&lt;br /&gt;Lalu mau kemana Muhammadiyah? Kita berharap Muhammadiyah, sebagai  ormas besar yang modern, mau berubah demi penyatuan Ummat. Tetapi juga  sama pentingnya adalah demi kemajuan Muhammadiyah sendiri, jangan sampai  muncul kesan di komunitas astronomi “Organisasi Islam modern, tetapi  kriteria kelendernya usang”. Semoga Muhammadiyah mau berubah!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1309261351433601549-7940911425986945741?l=www.mashariali.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/27/muhammadiyah-terbelenggu-wujudul-hilal-metode-lama-yang-mematikan-tajdid-hisab/' title='Muhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.mashariali.co.cc/feeds/7940911425986945741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.mashariali.co.cc/2011/09/muhammadiyah-terbelenggu-wujudul-hilal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1309261351433601549/posts/default/7940911425986945741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1309261351433601549/posts/default/7940911425986945741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.mashariali.co.cc/2011/09/muhammadiyah-terbelenggu-wujudul-hilal.html' title='Muhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab'/><author><name>Harry Al-Brebessy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17564538343679164647</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nZ3NBJL1tRw/TA-NNEtnxfI/AAAAAAAAAU8/5xVmm0QqYRU/S220/100_0478.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1309261351433601549.post-2235605525266274018</id><published>2011-07-16T22:54:00.000+07:00</published><updated>2011-07-16T22:54:48.337+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Momentum'/><title type='text'>Menimbang Amalan Malam NISFU SYA'BAN</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sejak hari kemarin hingga puncaknya malam ini handphone saya berkali-kali mendapatkan kiriman massage yang berisikan ucapan permohonan maaf sehubungan menjelang hadirnya bulan ramadhan 1432 H. Sampai disini, tidak ada masalah yang berarti.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Ketika kubuka media facebook, subhanallah... beberapa sahabat dengan penuh semangat mengingatkan tentang urgensi amalan malam nisfu sya’ban. Lebih mengagetkan lagi ketika saya bersama anak hendak sholat maghrib di musholla lingkungan rumah, kami kecele... apa pasal? Ternyata malam ini musholla dikhususkan &amp;nbsp;hanya untuk kaum hawwa, sedang bapak-bapaknya dialihkan ke masjid jami. Apalagi kalau bukan karena ba’da maghrib akan digelar ritualisme nisfu sya’ban.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Bagaimana sebenarnya kedudukan nisfu sya’ban dalam agama kita? Berikut saya “comot” tulisan dari &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin&lt;/b&gt; yang terdapat pada Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XIV dengan judul artikel: “&lt;a href="http://majalah-assunnah.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=160&amp;amp;Itemid=73" target="_self"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;Ada Apa Dengan Bulan Sya'ban ?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;Semoga bermanfaat, selamat neyimak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Berikut ini uraian singkat tentang beberapa masalah yang berkaitan dengan bulan Sya’bân.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;PERTAMA, TENTANG KEUTAMAAN PUASA BULAN SYA’BÂN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dalam shahih Bukhâri dan Muslim, diriwayatkan bahwa A’isyah &lt;i&gt;radhiyallâhu'anha&lt;/i&gt; menceritakan,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Aku tidak pernah melihat &lt;i&gt;Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam&lt;/i&gt; puasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhân dan aku tidak pernah melihat Beliau &lt;i&gt;Shallallâhu 'Alaihi Wasallam&lt;/i&gt; puasa lebih banyak dalam sebulan dibandingkan dengan puasa Beliau pada bulan Sya’bân.”&lt;a href="http://majalah-assunnah.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=160:ada-apa-dengan-bulan-syaban-&amp;amp;catid=43:fatawa&amp;amp;Itemid=73#dua"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color: blue; font-size: 6pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dalam riwayat Bukhâri, ada riwayat lain,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam berpuasa penuh pada bulan Sya’bân.”&lt;a href="http://majalah-assunnah.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=160:ada-apa-dengan-bulan-syaban-&amp;amp;catid=43:fatawa&amp;amp;Itemid=73#tiga"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color: blue; font-size: 6pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dalam riwayat lain Imam Muslim,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Beliau &lt;i&gt;Shallallâhu 'Alaihi Wasallam&lt;/i&gt; berpuasa pada bulan Sya’bân kecuali sedikit.”&lt;a href="http://majalah-assunnah.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=160:ada-apa-dengan-bulan-syaban-&amp;amp;catid=43:fatawa&amp;amp;Itemid=73#empat"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color: blue; font-size: 6pt;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Imam Ahmad &lt;i&gt;rahimahullâh&lt;/i&gt; dan Nasa’i &lt;i&gt;rahimahullâh&lt;/i&gt; meriwayatkan sebuat hadits dari Usâmah bin Zaid &lt;i&gt;radhiyallâhu'anhu&lt;/i&gt;, beliau mengatakan,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“&lt;i&gt;Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam tidak pernah berpuasa dalam sebulan sebagaimana Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam berpuasa pada bulan Sya’bân. Lalu ada yang berkata, ‘Aku tidak pernah melihat anda berpuasa sebagaimana anda berpuasa pada bulan Sya’bân.’ Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menjawab, ‘Banyak orang melalaikannya antara Rajab dan Ramadhân. Padahal pada bulan itu, amalan-amalan makhluk diangkat kehadirat Rabb, maka saya ingin amalan saya diangkat saat saya sedang puasa.&lt;/i&gt;"&lt;a href="http://majalah-assunnah.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=160:ada-apa-dengan-bulan-syaban-&amp;amp;catid=43:fatawa&amp;amp;Itemid=73#lima"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color: blue; font-size: 6pt;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;KEDUA, TENTANG PUASA NISFU (PERTENGAHAN) SYA’BÂN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Ibnu Rajab &lt;i&gt;rahimahullâh&lt;/i&gt; menyebutkan dalam al- Lathâ’if, (hlm. 143, cet. Dar Ihyâ’ Kutubil Arabiyah) dalam Sunan Ibnu Mâjah dengan sanad yang lemah dari ‘Ali &lt;i&gt;radhiyallâhu'anhu&lt;/i&gt; bahwa Nabi &lt;i&gt;Shallallâhu 'Alaihi Wasallam&lt;/i&gt; bersabda, Jika malam nisfu Sya’bân, maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah pada siangnya. Karena Allâh Ta'ala turun pada saat matahari tenggelam, lalu berfirman, “Adakah orang yang memohon ampun lalu akan saya ampuni ? adakah yang memohon rizki lalu akan saya beri ? …”&lt;a href="http://majalah-assunnah.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=160:ada-apa-dengan-bulan-syaban-&amp;amp;catid=43:fatawa&amp;amp;Itemid=73#enam"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color: blue; font-size: 6pt;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Saya mengatakan,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Hadits ini telah dihukumi sebagai hadits palsu oleh penulis kitab al Mannâr. Beliau rahimahullâh mengatakan (Majmu’ Fatawa beliau 5/622), ‘Yang benar, hadits itu maudhu’ (palsu), karena dalam sanadnya terdapat Abu Bakr, Abdullah bin Muhammad, yang dikenal dengan sebutan Ibnu Abi Bisrah. Imam Ahmad &lt;i&gt;rahimahullâh&lt;/i&gt; dan Yahya bin Ma’in &lt;i&gt;rahimahullâh&lt;/i&gt; mengatakan, ‘Orang ini pernah memalsukan hadits'.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Berdasarkan penjelasan ini, maka &lt;b&gt;puasa khusus pada pertengahan Sya’bân itu bukan amalan sunnah&lt;/b&gt;. Karena berdasarkan kesepakatan para ulama’, hukum syari’at tidak bisa ditetapkan dengan hadits-hadits yang derajatnya berkisar antara lemah dan palsu. Kecuali kalau kelemahan ini bisa tertutupi dengan banyaknya jalur periwayatan dan riwayat-riwayat pendukung, sehingga hadits ini bisa naik derajatnya menjadi Hadits Hasan Lighairi.&amp;nbsp;Hadits Hasan Lighairi&amp;nbsp;boleh dijadikan landasan untuk beramal kecuali kalau isinya mungkar atau syadz (nyeleneh).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;KETIGA, TENTANG KEUTAMAAN MALAM NISFU SYA’BÂN &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Ada beberapa riwayat yang dikomentari sendiri oleh Ibnu Rajab &lt;i&gt;rahimahullâh&lt;/i&gt; setelah membawakannya bahwa riwayat-riwayat ini masih diperselisihkan. Kebanyakan para ulama menilainya lemah sementara Ibnu Hibbân &lt;i&gt;rahimahullâh&lt;/i&gt; menilai sebagiannya shahih dan beliau membawakannya dalam shahih Ibnu Hibbân.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Diantara contohnya, dalam sebuah riwayat dari ‘Aisyah &lt;i&gt;radhiyallâhu'anha&lt;/i&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Sesungguhnya Allâh Ta'ala akan turun ke langit dunia pada malam nisfu Sya’bân lalu Allâh Ta'ala memberikan ampunan kepada (manusia yang jumlahnya) lebih dari jumlah bulu kambing-kambing milik Bani Kalb.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Hadits ini dibawakan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Mâjah. Tirmidzi &lt;i&gt;rahimahullâh&lt;/i&gt; menyebutkan bahwa Imam Bukhâri &lt;i&gt;rahimahullâh&lt;/i&gt; menilai hadits ini lemah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kemudian Ibnu Rajab &lt;i&gt;rahimahullâh&lt;/i&gt; menyebutkan beberapa hadits yang semakna dengan ini seraya mengatakan, “Dalam bab ini terdapat beberapa hadits lainnya namun memiliki kelemahan. “&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;As-Syaukâni &lt;i&gt;rahimahullâh&lt;/i&gt; menyebutkan bahwa dalam riwayat ‘Aisyah &lt;i&gt;radhiyallâhu'anha&lt;/i&gt; tersebut ada kelemahan dan sanadnya terputus. Syaikh Bin Bâz &lt;i&gt;rahimahullâh &lt;/i&gt;menyebutkan bahwa ada beberapa hadits lemah yang tidak bisa dijadikan pedoman tentang keutamaan malam nisfu Sya’bân.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;KEEMPAT, TENTANG SHALAT PADA MALAM NISFU SYA’BÂN &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Untuk masalah ini ada tiga tingkatan,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Tingkatan pertama&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;, shalat yang dikerjakan oleh orang yang terbiasa melakukannya diluar malam nisfu Sya’bân. Seperti orang yang terbiasa melakukan shalat malam. Jika orang ini melakukan shalat malam yang biasa dilakukannya diluar malam nisfu Sya’bân pada malam nisfu Sya’bân tanpa memberikan tambahan khusus dan dengan tanpa ada keyakinan bahwa malam ini memiliki keistimewaan, maka shalat yang dikerjakan orang ini tidak apa-apa. Karena ia tidak membuat-buat suatu yang baru dalam agama Allâh Ta'ala&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Tingkatan kedua&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;, shalat yang khusus dikerjakan pada malam nisfu Sya’bân. Ini termasuk bid’ah. Karena tidak ada riwayat dari Nabi &lt;i&gt;Shallallâhu 'Alaihi Wasallam&lt;/i&gt; yang menyatakan Beliau&lt;i&gt; &lt;/i&gt;memerintahkan, atau mengerjakannya begitu juga dengan para shahabatnya. Adapun hadits Ali &lt;i&gt;radhiyallâhu'anhu&lt;/i&gt; yang diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah &lt;i&gt;rahimahullâh&lt;/i&gt;, “Jika malam nisfu Sya’bân, maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah pada siangnya.”, sudah dijelaskan (di atas) bahwa Ibnu Rajab &lt;i&gt;rahimahullâh&lt;/i&gt; menilainya lemah, sementara Rasyid Ridha rahimahullâh menilainya palsu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Hadits seperti ini tidak bisa dijadikan sandaran untuk menetapkan hukum syar’i. Para Ulama memberikan toleran dalam masalah beramal dengan hadits lemah dalam masalah &lt;i&gt;fadhâilul a’mâl&lt;/i&gt;, tapi itupun dengan beberapa syarat yang harus terpenuhi, diantaranya,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-list: l0 level1 lfo1; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; tab-stops: list 36.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Syarat pertama&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;, kelemahan hadits itu tidak      parah. Sementara kelemahan hadits (tentang shalat nisfu Sya’bân) ini      sangat parah. Karena diantara perawinya ada orang yang pernah memalsukan      hadits, sebagaimana kami nukilkan dari Muhammad Rasyid Ridha &lt;i&gt;rahimahullâh&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-list: l0 level1 lfo1; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; tab-stops: list 36.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Syarat kedua&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;, hadits yang lemah itu      menjelaskan suatu yang ada dasarnya. Misalnya, ada ibadah yang ada      dasarnya lalu ada hadits-hadits lemah yang menjelaskannya sementara      kelemahannya tidak parah, maka hadits-hadits lemah ini bisa memberikan      tambahan motivasi untuk melakukannya, dengan mengharapkan pahala yang      disebutkan tanpa meyakininya sepenuh hati. Artinya, jika benar, maka itu      kebaikan bagi yang melakukannya, sedangkan jika tidak benar, maka itu      tidak membahayakannya karena ada dalil lain yang dijadikan landasan utama.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sebagaimana sudah diketahui bahwa dalam dalil yang memerintahkan untuk menunaikan shalat nisfu Sya’bân, syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi karena perintah ini tidak memiliki dalil yang shahih dari Nabi &lt;i&gt;Shallallâhu 'Alaihi Wasallam&lt;/i&gt; sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Rajab &lt;i&gt;rahimahullâh&lt;/i&gt; dan yang lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dalam al-Lathâif (hlm. 145) Ibnu Rajab &lt;i&gt;rahimahullâh&lt;/i&gt; mengatakan,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Begitu juga tentang shalat malam pada malam nisfu Sya’bân, tidak ada satu dalil sahih pun dari Nabi &lt;i&gt;Shallallâhu 'Alaihi Wasallam&lt;/i&gt; maupun dari shahabat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Muhammad Rasyid Ridha &lt;i&gt;rahimahullâh&lt;/i&gt; mengatakan,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Allâh Ta'ala tidak mensyari’atkan bagi kaum Mukminin satu amalan khusus pun pada malam nisfu Sya’bân ini, tidak melalui kitabullah, ataupun melalui lisan &lt;i&gt;Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam&lt;/i&gt; juga tidak melalui sunnah Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Syaikh Bin Baz &lt;i&gt;rahimahullâh&lt;/i&gt; mengatakan,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Semua riwayat yang menerangkan keutamaan shalat malam nisfu Sya’bân adalah riwayat palsu.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Keterangan terbaik tentang shalat malam nisfu Sya’bân yaitu perbuatan sebagian tabi’in, sebagaimana penjelasan Ibnu Rajab dalam al-Lathâif (hlm. 144), “Malam nisfu Sya’bân diagungkan oleh tabi’in dari Syam. Mereka bersungguh-sungguh melakukan ibadah pada malam itu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dari mereka inilah, keutamaan dan pengagungan malam ini diambil.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Ada yang mengatakan, ‘Riwayat yang sampai kepada mereka tentang malam nisfu Sya’bân itu adalah riwayat-riwayat isra’iliyyat.’ Ketika kabar ini tersebar diseluruh negeri, manusia mulai berselisih pendapat, ada yang menerimanya dan sependapat untuk mengagungkan malam nisfu Sya’bân, sedangkan Ulama Hijâz mengingkarinya. Mereka mengatakan, ‘Semua itu perbuatan bid’ah.’&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Tidak diragukan lagi, pendapat ulama Hijaz ini adalah pendapat yang benar karena Allâh Ta'ala berfirman, yang artinya,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, &lt;br /&gt;dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku,&lt;br /&gt;dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” &lt;br /&gt;&lt;b&gt;(Qs al-Maidah/5:3)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;Seandainya shalat malam nisfu Sya’bân itu bagian dari agama Allâh, tentu Allâh Ta'ala jelaskan dalam kitab-Nya, atau dijelaskan oleh Rasûlullâh &lt;i&gt;Shallallâhu 'Alaihi Wasallam&lt;/i&gt; melalui ucapan maupun perbuatan Beliau. Ketika keterangan itu tidak ada, itu berarti shalat khusus ini bukan bagian dari agama Allâh Ta'ala.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Semua (ibadah) yang bukan bagian dari agama Allâh Ta'ala adalah bid’ah, sementara ada dalil shahih dari Nabi &lt;i&gt;Shallallâhu 'Alaihi Wasallam&lt;/i&gt;, bahwa Beliau bersabda, "Semua bid’ah itu sesat.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Tingkatan ketiga,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt; dikerjakan malam itu satu shalat khusus dengan jumlah tertentu dan ini dilakukan tiap tahun.&lt;b&gt; &lt;/b&gt;Maka ini lebih parah daripada tingkatan kedua dan lebih jauh dari sunnah. Riwayat-riwayat yang menjelaskan keutamaannya adalah hadits palsu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;As-Syaukâni &lt;i&gt;rahimahullâh&lt;/i&gt; mengatakan (al-Fawâidul Majmû’ah, hlm. 15),&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Semua riwayat tentang shalat malam nisfu Sya’bân ini adalah riwayat bathil dan palsu.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;KELIMA, TERSEBAR KABAR DI MASYARAKAT BAHWA PADA MALAM NISFU SYA’BÂN ITU DITENTUKAN APA YANG AKAN TERJADI TAHUN ITU &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Ini kabar yang bathil. Malam penentuan takdir kejadian selama setahun itu yaitu pada malam qadar lailatul Qadar).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Allâh Ta'ala berfirman, yang artinya,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Haa miim. Demi Kitab (al Qur’ân) yang menjelaskan. &lt;br /&gt;Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi &lt;br /&gt;dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. &lt;br /&gt;Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;(Qs ad-Dukhân/44:1-4). &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;Malam diturunkannya al-Qur’ân adalah lailatul qadar. Allâh Ta'ala berfirman, yang artinya,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (al-Qurân) pada malam kemuliaan."&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(Qs al-Qadr/97:1)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;yaitu pada bulan Ramadhân, karena Allâh Ta'ala menurunkan al-Qur’an pada bulan itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Allâh Ta'ala berfirman, yang artinya,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“&lt;i&gt;Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al Qur’ân.&lt;/i&gt;” &lt;br /&gt;&lt;b&gt;(Qs al-Baqarah/2:185)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mengira bahwa malam nisfu Sya’bân merupakan waktu Allâh Ta'ala menentukan apa yang akan terjadi dalam tahun itu berarti dia telah menyelisihi kandungan al-Qur’an.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;KEENAM, ADA SEBAGIAN ORANG MEMBUAT MAKANAN PADA HARI NISFU SYA’BÂN DAN MEMBAGIKANNYA KEPADA FAKIR MISKIN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Ini yang mereka namakan &lt;i&gt;‘asyiyâtul wâlidain&lt;/i&gt;. Perbuatan ini juga tidak ada dasarnya dari Nabi &lt;i&gt;Shallallâhu 'Alaihi Wasallam&lt;/i&gt;. Sehingga mengkhususkan amalan ini pada nisfu Sya’bân termasuk amalan bid’ah yang telah diperingatkan oleh &lt;i&gt;Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam&lt;/i&gt; dengan sabda Beliau, ”Semua bid’ah itu sesat.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Ketahuilah, orang yang membuat kebid’ahan dalam agama Allâh Ta'ala ini berarti dia telah terjerumus dalam beberapa larangan :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" class="MsoNormalTable" style="width: 610px;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr style="mso-yfti-firstrow: yes; mso-yfti-irow: 0;"&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;" valign="top"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;a.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Perbuatannya menyiratkan pendustaan terhadap   kandungan firman Allâh Ta'ala, yang artinya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu   agamamu.” &lt;br /&gt;&lt;b&gt;(Qs al-Maidah/5:3)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;Karena apa yang dibuat-buat ini dan diyakini sebagai bagian dari agama ini   tidak termasuk agama ketika agama ini diturunkan. Dengan demikian, ditinjau   dari kebid’ahan ini berarti agama itu belum sempurna (sehingga perlu   disempurnakan-red)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 1;"&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 2;"&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;" valign="top"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;b.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Membuat-buat   suatu yang baru menyiratkan kelancangan terhadap Allâh dan rasulNya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 3;"&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 4;"&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;" valign="top"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;c.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Orang yang membuat-buat suatu yang baru berarti ia   memposisikan dirinya sama dengan Allâh Ta'ala dalam menghukumi manusia. Allâh   berfirman, yang artinya,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain   Allâh &lt;br /&gt;yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allâh ?” &lt;br /&gt;&lt;b&gt;(Qs as-Syuura/42:21)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 5;"&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 6;"&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;" valign="top"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;d.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Membuat-buat   suatu baru berkonsekuensi satu diantara dua. Yang pertama, Nabi Shallallâhu   'Alaihi Wasallam tidak tahu bahwa amalan ini bagian dari agama dan kedua,   Nabi tahu namun Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menyembunyikannya. Kedua   anggapan ini adalah celaan kepada Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam karena   yang pertama menuduh Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam tidak tahu syari’at   dan kedua menuduh Beliau menyembunyikan bagian dari agama Allâh yang Beliau   ketahui.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 7;"&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 8;"&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;" valign="top"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;e.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kebid’ahan   menyebabkan manusia berani terhadap syari’at Allâh Ta'ala. Ini sangat   dilarang oleh Allâh Ta'ala.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 9;"&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 10;"&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;" valign="top"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;f.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kebid’ahan ini akan memecah belah umat. Karena   masing-masing membuat manhaj sendiri dan menuduh yang lain masih kurang. Ini   akan menyeret umat kedalam apa yang dilarang Allâh Ta'ala &amp;nbsp;dalam   firman-Nya, yang artinya,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang &lt;br /&gt;yang bercerai-berai dan berselisih &lt;br /&gt;sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. &lt;br /&gt;mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,"&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(Qs Ali Imrân/3:105) &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;dan dalam firman-Nya, yang artinya,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama   mereka&lt;br /&gt;dan mereka menjadi bergolong-golong, &lt;br /&gt;tidak ada sedikitpun tanggung-jawabmu kepada mereka. &lt;br /&gt;Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allâh, &lt;br /&gt;kemudian Allâh akan memberitahukan kepada mereka &lt;br /&gt;apa yang telah mereka perbuat.” &lt;br /&gt;&lt;b&gt;(Qs al-An’âm/6:159)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 11;"&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 12; mso-yfti-lastrow: yes;"&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;" valign="top"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;g.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kebid’ahan   ini membuat pelakunya tersibukkan sehingga meninggalkan suatu yang disyariatkan.   Para pembuat bid’ah itu, tidaklah membuat suatu kebid’ahan kecuali pada saat   yang sama dia telah menghancurkan syariat yang sepadan dengannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sesungguhnya apa yang tercantum dalam kitabullah dan sunnah yang shahih itu sudah cukup bagi orang-orang yang mendapat hidayah dari Allâh Ta'ala.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Allâh Ta'ala berfirman,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb kalian &lt;br /&gt;dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada &lt;br /&gt;dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.&lt;br /&gt;Katakanlah, “Dengan kurnia Allâh dan rahmat-Nya,&lt;br /&gt;hendaklah mereka bergembira dengannya. karunia Allâh &lt;br /&gt;dan rahmat-Nya itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. &lt;br /&gt;&lt;b&gt;(Qs Yûnus/10:57-58) &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain Allâh Ta'ala berfirman, yang artinya,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.”&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(Qs Thaha/20:123) &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya memohon kepada Allâh Ta'ala agar senantiasa memberikan petunjuk kepada kita dan kepada saudara-saudara kita kaum Muslimin menuju &lt;i&gt;shirâtul mustaqîm&lt;/i&gt; dan saya memohon kepada Allâh Ta'ala agar senantiasa menolong kita di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allâh Maha Dermawan dan Maha Pemurah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;img alt="http://majalah-assunnah.com/images/naskah/garis.gif" border="0" height="2" src="file:///C:/Users/user/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" width="160" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" class="MsoNormalTable" style="width: 580px;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr style="mso-yfti-firstrow: yes; mso-yfti-irow: 0;"&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;" valign="top"&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: right;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1309261351433601549&amp;amp;postID=2235605525266274018" name="satu"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 6pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Diterjemahkan   dengan sedikit ringkas dari Majmu’ Fatawa&amp;nbsp;beliau, 20/25-33&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 1;"&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;" valign="top"&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: right;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1309261351433601549&amp;amp;postID=2235605525266274018" name="dua"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 6pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;" valign="top"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;HR   Bukhâri, no. 1969 dan Muslim, no. 1156 dan 176&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 2;"&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;" valign="top"&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: right;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1309261351433601549&amp;amp;postID=2235605525266274018" name="tiga"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 6pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;" valign="top"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;HR   Bukhâri, no. 1970&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 3;"&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;" valign="top"&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: right;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1309261351433601549&amp;amp;postID=2235605525266274018" name="empat"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 6pt;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;" valign="top"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;HR Muslim,   no. 1156 dan 176&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 4;"&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;" valign="top"&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: right;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1309261351433601549&amp;amp;postID=2235605525266274018" name="lima"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 6pt;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;" valign="top"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;HR Ahmad,   5/201 dan Nasâ’i, 4/102&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow: 5; mso-yfti-lastrow: yes;"&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;" valign="top"&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: right;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1309261351433601549&amp;amp;postID=2235605525266274018" name="enam"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 6pt;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: .75pt .75pt .75pt .75pt; width: 759.75pt;" valign="top" width="1013"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;HR Ibnu   Mâjah, no. 1388&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1309261351433601549-2235605525266274018?l=www.mashariali.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.mashariali.co.cc/feeds/2235605525266274018/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.mashariali.co.cc/2011/07/menimbang-amalan-malam-nisfu-syaban.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1309261351433601549/posts/default/2235605525266274018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1309261351433601549/posts/default/2235605525266274018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.mashariali.co.cc/2011/07/menimbang-amalan-malam-nisfu-syaban.html' title='Menimbang Amalan Malam NISFU SYA&apos;BAN'/><author><name>Harry Al-Brebessy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17564538343679164647</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nZ3NBJL1tRw/TA-NNEtnxfI/AAAAAAAAAU8/5xVmm0QqYRU/S220/100_0478.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1309261351433601549.post-7465350487369160006</id><published>2011-07-09T05:52:00.001+07:00</published><updated>2011-07-09T06:00:50.741+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Momentum'/><title type='text'>Peringatan Isra’ Mi’raj</title><content type='html'>Bulan Rajab, bulan yang dihormati manusia. Bulan ini termasuk bulan haram (Asyhurul Hurum). Banyak cara manusia menghormati bulan ini, ada yang menyembelih hewan, ada yang melakukan sholat khusus Rajab dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bulan ini juga, sebagian kaum muslimin memperingati satu peristiwa yang sangat luar biasa, peristiwa perjalanan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dari Makkah ke Baitul Maqdis, kemudian ke sidratul muntaha menghadap Pencipta alam semesta dan Pemeliharanya. Itulah peristiwa Isra’ dan Mi’raj.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa ini tidak akan dilupakan kaum muslimin, karena perintah sholat lima waktu sehari semalam diberikan oleh Allah pada saat Isra’ dan Mi’raj. Tiang agama ini tidak akan lepas dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, haruskah peristiwa itu diperingati? Apakah peringatan Isra’ mi’raj yang dilakukan kaum ini merupakan hal yang baik ataukah satu hal yang merusak agama? Simaklah pembahasan kali ini, mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk memahaminya dan menerima kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Kapan Isra’ dan Mi’raj terjadi?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ketika mendengar sebuah peristiwa besar, mestinya ada satu pertanyaan yang akan segera timbul dalam hati si pendengar yaitu masalah waktu terjadi. Begitu pula kaitannya dengannya peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan sebenarnya Isra’ dan Mi’raj terjadi, benarkah pada tanggal 27 Rajab atau tidak? Untuk bisa memberikan jawaban yang benar, kita perlu melihat pendapat para ulama seputar masalah ini. Berikut kami nukilkan beberapa pendapat para ulama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqaalaniy Rahimahullah 1 berkata: “Para ulama berselisih tentang waktu Mi’raj. Ada yang mengatakan sebelum kenabian. Ini pendapat yang aneh, kecuali kalau dianggap terjadinya dalam mimpi. Kebanyakan para ulama berpendapat bahwa peristiwa itu terjadi setelah kenabian. Para ulama yang mengatakan peristiwa Isra’ dan Mi’raj terjadi setelah kenabian juga berselisih, diantara mereka ada yang mengatakan setahun sebelum hijrah. Ini pendapat Ibnu Sa’ad dan yang lainnya dan dirajihkan (dikuatkan) oleh Imam An Nawawiy dan Ibnu Hazm, bahkan Ibnu Hazm berlebihan dengan mengatakan ijma’ (menjadi kesepakatan para ulama’) dan itu terjadi pada bulan Rabiul Awal. Klaim ijma’ ini tertolak, karena seputar hal itu ada perselisihan yang banyak lebih dari sepuluh pendapat.”2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau menyebutkan pendapat para ulama tersebut satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pendapat pertama mengatakan: “setahun sebelum hijroh, tepatnya bulan Rabi’ul Awal”. Ini pendapat Ibnu Sa’ad dan yang lainnya dan dirajihkan An Nawawiy&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kedua mengatakan: “delapan bulan sebelum hijroh, tepatnya bulan Rajab”. Ini isyarat perkataan Ibnu Hazm, ketika berkata: “Terjadi di bulan rajab tahun 12 kenabian”.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ketiga mengatakan: “enam bulan sebelum hijroh, tepatnya bulan Romadhon”. Ini disampaikan oleh Abu Ar Rabie’ bin Saalim.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Keempat mengatakan: “sebelas bulan sebelum hijroh tepatnya di bulan Robiul Akhir”. Ini pendapat Ibrohim bin Ishaq Al Harbiy, ketika berkata: “Terjadi pada bulan Rabiul Akhir, setahun sebelum hijroh”. Pendapat ini dirojihkan Ibnul Munayyir dalam syarah As Siirah karya Ibnu Abdil Barr.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kelima mengatakan: “setahun dua bulan sebelum hijroh”. Pendapat ini disampaikan Ibnu Abdilbar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keenam mengatakan: “setahun tiga bulan sebelum hijroh”. Pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Faaris.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Ketujuh mengatakan: “setahun lima bulan sebelum hijroh”. Ini pendapat As Suddiy.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kedelapan mengatakan: “delapan belas bulan sebelum hijroh, tepatnya dibulan Ramadhan”. Pendapat ini disampaikan Ibnu Sa’ad, Ibnu Abi Subrah dan Ibnu Abdilbar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kesembilan mengatakan: ” Bulan Rajab tiga tahun sebelum hijroh”. Pendapat ini disampaikan Ibnul Atsir&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kesepuluh mengatakan: “lima tahun sebelum hijroh”. Ini pendapat imam Az Zuhriy dan dirojihkan Al Qadhi ‘Iyaadh. 3&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena banyaknya perbedaan pendapat dalam masalah ini, maka benarlah apa yang dikatakan Ibnu Taimiyah Rahimahullah , bahwa tidak ada dalil kuat yang menunjukkan bulannya dan tanggalnya. Bahkan pemberitaannya terputus serta massih diperselisihkan, tidak ada yang dapat memastikannya.4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Imam Abu Syaamah mengatakan, “Dan para ahli dongeng menyebutkan Isra’ dan Mi’raj terjadi di bulan Rajab. Menurut ahli ta’dil dan jarh (Ulama Hadits) itu adalah kedustaan”. 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hukum Memperingati Isra’ dan Mi’raj.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah Islam agama yang sempurna ini mensyariatkan sesuatu yang belum jelas ketentuan waktunya? Cukuplah ini sebagai indikator kuat akan bid’ahnya peringatan Isra’ dan Mi’raj yang banyak diadakan kaum muslimin. Apalagi kita telah tahu bahwa para ulama salaf telah sepakat (konsensus) menggolongkan peringatan yang dilakukan berulang-ulang (musim) yang tidak ada syariatnya termasuk kebidahan yang dilarang Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam . berdalil dengan sabda beliau:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati-hatilah dari hal yang baru, karena setiap hal yang baru itu bid’ah dan setiap kebidahan itu sesat. (Riwayat At Tirmidziy dan Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang membuat-buat dalam perkaraku (agamaku) ini, sesuatu yang bukan darinya maka dia tertolak. (Riwayat Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;serta:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang beramal satu amalan yang tidak ada perintahku padanya mak dia tertolak. (Riwayat Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan Isra’ dan Mi’raj adalah perkara baru yang tidak pernah dilakukan para sahabat dan tabiin maupun orang-orang alim setelah mereka dari para salaf umat ini. Padahal mereka adalah orang yang paling semangat mencari kebaikan dan paling semangat mengamalkan amal sholeh.6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu berkata Syeikhil Islam Ibnu Taimiyah ketika beliau ditanya tentang keutamaan malam Isra’ dan Mi’raj dan malam qadar, “… Dan tidak diketahui seorangpun dari kaum muslimin menjadikan malam Isra’ dan Mi’raj memiliki keutaman atas selainnya, apalagi diatas malam qadar. Demikian juga para sahabat g dan orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak sengaja mengkhususkan satu amalan di malam Isra’ dan Mi’raj dan mereka juga tidak memperingatinya, oleh karena itu tidak diketahui kapan malam tersebut. Peristiwa isra’ merupakan keutamaan beliau Shallallahu’alaihi Wasallam yang besar, namun demikian, tidak perintahkan mengkhususkan (mengistimewakan) malam tersebut dan tempat kejadian tersebut dengan melakukan satu ibadah syar’i. Bahkan gua Hiro’ yang merupakan tempat turun wahyu pertama kali dan merupakan tempat pilihan Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam sebelum diutus menjadi Nabi, tidak pernah sengaja di kunjungi oleh beliau Shallallahu’alaihi Wasallam ataupun salah seorang sahabatnya selama berada diMakkah. Tidak pula mengkhususkan (mengistimewakan) hari turunnya wahyu dengan satu ibadah tertentu atau yang lainnya. Tidak pula mengkhususkan tempat pertama kali turun wahyu dengan sesuatu. Maka barang siapa mengkhususkan (mengistimewakan) tempat-tempat dan waktu-waktu yang diinginkan dengan melakukan satu ibadah tertentu karena termotivasi oleh peristiwa diatas atau yang sejenisnya, maka dia sama dengan ahli kitab yang telah menjadikan hari kelahiran Isa q musim dan ibadah seperti hari natal dan lain sebagainya”7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih memperjelas masalah hukum peringatan Isra’ Mi’raj, kami sampaikan fatwa beberapa ulama tentang hukum peringatan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: An Nahaas rahimahullah 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berkata, “Peringatan malam Isra’ dan Mi’raj adalah bid’ah besar dalam agama dan kebid’ahan yang dibuat oleh teman-teman Syaithon.”9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Ibnul Haaj.10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berkata, “Diantara kebid’ahan yang mereka buat pada bulan Rajab adalah malam dua puluh tujuh yang merupakan malam Isra’ dan Mi’raj “11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Fatwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy Syaikh rahimahullah 12 dalam jawaban beliau atas undangan yang disampaikan kepada Robithoh Alam Islamiy untuk menghadiri salah satu peringatan Isra’ dan Mi’raj setelah beliau ditanya tentang hal itu. Lalu beliau menjawab,”Ini tidak disyariatkan, dengan berdasarkan Al-Qur’an, As-sunnah, Istishhab dan akal”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil Al Qur’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridha Islam itu jadi agamamu. (QS. Al Maidah : 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An Nisa’ 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kembali kepada Allah maksudnya kembali kepada Al Quran, kembali kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam maksudnya merujuk ke Sunnahnya setelah beliau meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورُُ رَّحِيمُُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah (hai Muhammad), “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Imran: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka orang-orang yang menyalahi perintah-Nya hendaklah mereka takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS. An Nur: 63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil Sunnah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Hadits shahih dalam shohihain dari Aisyah z bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang membuat-buat dalam perkaraku (agamaku) ini, sesuatu yang bukan darinya maka dia tertolak. (Riwayat Bukhari dan Muslim),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan hadits shahih dalam Kitab Shahih Muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang melakukan satu amalan yang tidak kami perintahkan maka dia tertolak (Riwayat Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Hadits riwayat Ibnu Majah, At Tirmidziy dan dianggap shohih oleh beliau serta diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban dalam shohihnya dari Irbaadh bin Saariyah Radhiallahu’anhu , beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindarilah hal-hal yang baru, karena setiap hal yang baru itu bidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Riwayat Ahmad, Al bazaar dari Ghadhiif bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا أَحدَثَ قَوْمٌ بِدْعَةً إِلاَّ رَفَعَ مِثْلَهَا مِنَ السُّنَّةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah satu kaum berbuat bid’ah kecuali dihilangkan sepertinya dari Sunnah. Dan diriwayatkan oleh Ath Thabraaniy akan tetapi dengan lafadz:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا مِنْ أُمَّةٍ ابْتَدَعَتْ بَعْدَ نَبِيِّهَا إِلاَّ أَضَاعَتْ مِثْلَهَا مِنَ السُّنَّةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada umat yang melakukan kebidahan setelah nabinya kecuali dihilangkan sunnah seukuran bid’ahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Riwayat Ibnu Majah, Ibnu Abi Ashim dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَبَى اللهُ أَنْ يَقْبَلَ عَمَلَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah tidak akan menerima amalan pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan perbuatan bid’ahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam riwayat Ath Thabraniy dengan lafadz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah menutup taubat dari semua pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan perbuatan bid’ahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil Istishhaab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tidak ada dasar perintahnya. Pada dasarnya, ibadah itu tauqifiyah, sehingga tidak boleh kita mengatakan, “Ibadah ini disyariatkan” kecuali ada dalil dari Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’, dan tidak boleh pula mengatakan, “Ini diperbolehkan karena termasuk dalam maslahat mursalah, istihsaan (anggapan baik), qiyas (analogi) atau ijtihad” karena permasalahan aqidah, Ibadah dan hal-hal yang telah ada ukurannya (dalam Syariat) seperti pembagian warisan dan pidana adalah perkara yang tidak ada tempat bagi ijtihad atau sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil Akal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika perayaan Isra’ dan Mi’raj bertujuan untuk mengagungkan peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu sendiri, kita katakan, “seandainya hal ini disyari’atkan, tentunya Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam merupakan orang pertama yang melaksanakannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika perayaan itu untuk mengagungkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan mengenang perjuangan Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam seperti pada maulid Nabi, maka tentulah Abu Bakr Radhiallahu’anhu adalah orang yang pertama melakukannya , lalu Umar, Utsman, Ali, kemudian orang-orang setelah mereka. Disusul kemudian oleh para tabiin selanjut para imam. Padahal tidak ada seorangpun dari mereka yang diketahui melakukan hal tersebut meskipun sedikit. Maka cukuplah bagi kita untuk melakukan apa yang menurut mereka cukup.”13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliaupun berfatwa di dalam fatawa wa rasail beliau, “Peringatan Isra’ dan Mi’raj adalah perkara batil dan satu kebidahan. Ini termasuk sikap meniru-niru orang yahudi dan nashrani dalam mengagungkan hari yang tidak diagungkan syari’at. Pemilik kedudukan tinggi Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam lah yang menetapkan syariat. Dialah yang menjelaskan halal dan harom. Sementara para khulafa’ rasyidin dan para imam dari para sahabat dan tabiin tidak pernah diketahui melakukan peringatan tersebut.” Kemudian berkata lagi, “Maksudnya perayaan peringatan Isra’ dan Mi’raj adalah bid’ah. Maka tidak boleh bekerjasama dalam hal tersebut.”14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Fatwa Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baaz rahimahullah 15:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak disangsikan lagi, Isra’ mi’roj merupakan tanda kebesaran Allah Ta’ala yang menunjukkan kebenaran Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan ketinggian derajat Beliau disisi Allah Ta’ala . Sebagaimana Isra’ dan Mi’raj termasuk tanda-tanda keagungan Allah dan ketinggianNya atas seluruh makhluk. Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ اْلأَقْصَا الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَآ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Al Isra’ : 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan telah telah diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa Beliau diangkat ke langit dan dibukakan pintu-pintunya sampai Beliau melewati langit yang ketujuh. Lalu RobNya berbicara kepadanya dengan sesuatu yang dikehendakinya dan diwajibkan padanya sholat lima waktu. Allah Ta’ala pertama kali mewajibkan padanya lima puluh sholat, lalu senantiasa Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam meminta keringanan sampai dijadikan lima sholat. Itulah lima sholat yang diwajibkan tapi pahalanya lima puluh, karena satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Allah k zat yang harus dipuji dan disyukuri atas segala nikmatNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada dalam hadits yang shohih penentuan malam terjadinya Isra’ dan Mi’raj. Semua hadits yang menjelaskan penentuan malamnya menurut ulama hadits adalah hadits yang tidak shohih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Allah Ta’ala memiliki hikmah dalam melupakan manusia tentangnya. Seandainya ada penentuannya yang absahpun kaum muslimin tidak boleh mengkhususkannya dengan satu ibadah tertentu, tidak boleh mereka merayakan peringatannya, karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya tidak memperingatinya dan tidak pula mengkhususkan ibadah tertentu padanya. Seandainya peringatannya adalah perkara yang disyariatkan, tentunya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah menjelaskannya kepada umatnya, baik dengan ucapan atau perbuatan Beliau. Seandainya pernah dilakukan niscaya akan iketahui serta akan dinukilkan oleh para sahabatnya g kepada kita. Karena mereka telah menyampaikan segala sesuatu yang dibutuhkan umat dan tidak melalaikan urusan agama ini sedikitpun, bahkan mereka berlomba-lomba dalam melaksanakan kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka seandainya peringatan malam Isra’ dan Mi’raj disyariatkan niscaya mereka orang pertama yang melakukannya, apalagi Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam adalah orang yang sering menasehati umatnya. Beliau telah menyampaikan risalah agama sebaik-baiknya serta telah menunaikan amanah yang diembannya. Maka seandainya mengagungkan dan memperingati malam tersebut termasuk ajaran agama, maka tentunya Beliau tidak melalaikan dan menyembunyikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Nabi tidak mengagungkan dan memperingati malam tersebut, maka jelaslah peringatan dan pengagungan malam tersebut bukan termasuk ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Allah Ta’ala telah menyempurnakan agama Islam dan menyempurnakan nikmat untuk umatnya serta mengingkari orang yang menambah-nambah syariat Islam dengan sesuatu yang tidak diizinkanNya. Allah berfirman dalam Al Qur’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. (QS. Al Maidah : 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dalam firmanNya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَمْ لَهُمْ شُرَكَآؤُاْ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَالَمْ يَأْذَن بِهِ اللهُ وَلَوْلاَ كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِىَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمُُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan (selain Allah) yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan.Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih. (QS. Asy Syura :21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam hadits-hadits yang shohih telah memperingatkan bahaya bid’ah dan menjelaskan bahwa bid’ah itu sesat. Untuk memperingatkan umat ini dari besarnya bahaya bidah dan untuk menghindarkan mereka dari membuat bid’ah. Kami akan sampaikan beberapa hadits, diantaranya hadits yang shohih dalam shohihain dari Aisyah x dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam , Beliau bersabda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang membuat-buat dalam perkaraku (agamaku) ini, sesuatu yang bukan darinya maka dia tertolak. (Riwayat Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan dalam riwayat Muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang beramal satu amalan yang tidak ada perintahku padanya mak dia tertolak. (Riwayat Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam shohih Muslim dari Jabir bin Abdillah Radhiallahu’anhu beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkhutbah pada hari jum’at dan mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَمَا بَعْدُ فَإِِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللَّهِ وَ خَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ama Ba’du; sesungguhnya sebaik ucapan adalah kitabullah dan sebaik contoh adalah contoh petunjuk Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam , sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang dibuat-buat, dan setiap kebidahan adalah sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sunan dari Al Irbaadh bin Saariyah Radhiallahu’anhu , beliau berkata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً بَلِيغَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا قَالَ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِيْ تَمَسَّكُوْابِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah menasehati kami dengan nasehat yang mendalam, hati bergetar dan mata meneteskan airmata. Lalu kami berkata: “Wahai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam seakan-akan nasehat perpisahan, maka berilah kami wasiat!. Lalu beliau berkata: “aku wasiatkan kalian untuk bertaqwa kepada Allah ,patuh dan taat, walaupun kalian dipimpin seorang budak, karena siapa yang hidup dari kalian, maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka kalian harus berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnahnya para khulafa rasyidin yang memberi petunjuk setelahku. Berpeganglah kalian dan gigitlah dia dengan gigi graham kalian serta hati-hatilah dari hal yang baru, karenasetiap hal yang baru itu bidah dan setiap kebidahan itu sesat. (Riwayat At Tirmidziy dan Ibnu Majah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan banyak hadits yang lain yang semakna dengan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga peringatan dan ancaman dari perbuatan bid’ah telah ada dari sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para salaf sholih setelah mereka. Karena perbuatan bid’ah adalah penambahan dalam agama dan syariat yang tidak diizinkan Allah Ta’ala serta meniru-niru kaum Yahudi dan Nashroni musuh Allah. Melakukan bid’ah berarti pelecehan terhadap agama Islam dan menuduh Islam tidak sempurna. Dengan demikian jelas menimbulkan kerusakan dan kemungkaran yang besar, karena Allah telah menyatakan kesempurnaan agama ini melalui firmanNya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu (QS. Al Maidah 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan bid’ah juga secara terang-terangan menyelisihi hadits-hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang memperingatkan dan mengancam kebid’ahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan apa yang telah kami jelaskan dari dalil-dali tersebut cukup memuaskan pencari kebenaran dalam mengingkari dan mengingatkan kebidahan ini- yaitu peringatan malam Isra’ dan Mi’raj -. Sesungguhnya dia bukanlah dari syariat Islam sedikitpun.16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah keterangan para ulama seputar hukum merayakan peringatan Isra’ dan Mi’raj. Keterangan yang cukup jelas dan gamblang disertai dalil-dalil yang kuat bagi pencari kebenaran. Kemudian masihkah kita melakukannya, padahal peringatan tersebut satu kebidahan dan bukan termasuk ajaran Islam. Bahkan itu merupakan penambahan syariat dalam Islam dan menyerupai kelakuan ahli kitab yang telah membuat bid’ah dalam agama mereka, sehingga menjadi rusak dan hancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkan kita merenungkan bahaya kebidahan terhadap islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukuplah peringatan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam , para sahabat dan ulama Islam sebagai peringatan bagi kita untuk sadar dan bangkit memperbaiki kondisi kaum muslimin demi mencapai kejayaan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan Allah meudahkan kita untuk memahami tulisan ini dan mudah-mudahan Allah menolong kita dalam menjalankan ketaatan kepadaNya dan untuk meninggalkan perayaan yang telah menghabiskan harta dan tenaga yang banyak akan tetapi justru merusak agama dan amalan kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel UstadzKholid.Com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Kaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Beliau bernama Ahmad bin Ali bin Muhammad Al Kinaaniy Al Asqaalaniy, seorang ulama besar dalam hadits dan fiqih, pengarang kitab Fathul Bariy Syarah Shahih Bukhari, meninggal tahun 852 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Ibnu Hajar, Fathul Bari 7/203.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 ibid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 lihat Zaadul Ma’aad 1/57.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Al Baa’its, hal 171.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 Lihat Al Bida’ Al Hauliyah hal. 274.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’ad 1/58-59.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 Beliau bernama Abu Zakariya Ahmad bin Ibrahim bin Muhammad Ad Dimasyqiy, dikenal dengan Ibnu Nahaas, seorang ulama besar yang meninggal dalam perang menghadapi Perancis tahun 814 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9 lihat Al Bida’ Al Hauliyah hal 279.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Al Haaj, Abu Abdillah Al “Abdariy Al Faasiy, meninggal tahun 737 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11 lihat Al bida’ Al Hauliyah hal. 275, menukil dari Al Madkhal 1/.294.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 Beliau bernama Muhammad bin Ibrahim bin Abdillathif bin Abdirrohman bin Hasan bin Muhammad bin Abdil Wahaab, dilahirkan di Riyadh tahun 1311 H dan meninggal di bulan Ramadhan 1398 H. Beliau pernah menjabat sebagai ketua Rabithah Alam Islamiy, Rektor Jami’ah Islamiyah dan Mufti agung kerajaan Saudi Arabia sebelum Syaikh Ibnu Baaz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 Lihat Al Bida’ Al Hauliyah hal. 276-279 menukil dari Fatawa wa Rasail Asy Syaikh Muhammad bin Ibrahim 3/97-100.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 Ibid 3/103.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 Beliau bernama Abdulaziz bin Abdillah bin Abdirrahman bin Baaz, dilahirkan tahun 1330 H di Riyadh. Beliau seorang alim besar abad ini dan menjadi mufti agung Kerajaan Saudi Arabia menggantikan Syeikh Muhammad bin Ibrahim Ali Asy Syaikh sampai meninggal tahun 1420 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16 Lihat catatan kaki kitab Fatawa Lajnah Daimah 3/64-66.&lt;br /&gt;sumber:http://ustadzkholid.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1309261351433601549-7465350487369160006?l=www.mashariali.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://ustadzkholid.com' title='Peringatan Isra’ Mi’raj'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.mashariali.co.cc/feeds/7465350487369160006/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.mashariali.co.cc/2011/07/peringatan-isra-miraj.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1309261351433601549/posts/default/7465350487369160006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1309261351433601549/posts/default/7465350487369160006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.mashariali.co.cc/2011/07/peringatan-isra-miraj.html' title='Peringatan Isra’ Mi’raj'/><author><name>Harry Al-Brebessy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17564538343679164647</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nZ3NBJL1tRw/TA-NNEtnxfI/AAAAAAAAAU8/5xVmm0QqYRU/S220/100_0478.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1309261351433601549.post-6231206175784526261</id><published>2010-08-21T10:25:00.001+07:00</published><updated>2011-04-23T05:01:00.803+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ucapan'/><title type='text'>Selamat Berjumpa</title><content type='html'>Selamat datang, selamat berjumpa dengan kami... semoga pertemuan kita dapat membawa kemanfaatan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1309261351433601549-6231206175784526261?l=www.mashariali.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://caferadiologi.blogspot.com' title='Selamat Berjumpa'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.mashariali.co.cc/feeds/6231206175784526261/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.mashariali.co.cc/2010/08/permohonan-maaf.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1309261351433601549/posts/default/6231206175784526261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1309261351433601549/posts/default/6231206175784526261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.mashariali.co.cc/2010/08/permohonan-maaf.html' title='Selamat Berjumpa'/><author><name>Harry Al-Brebessy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17564538343679164647</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nZ3NBJL1tRw/TA-NNEtnxfI/AAAAAAAAAU8/5xVmm0QqYRU/S220/100_0478.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
